Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan pos dari Februari, 2017

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J

Hijrah.

Kalau kata kisah, tidak ada hijrah yang mudah. Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah adalah 'percobaan' ketiga setelah dua peristiwa hijrah sebelumnya, ke Abisina dan ke Thaif yang tak mendapatkan sambutan yang ramah.
Pun perjalanan hijrah itu sendiri bukanlah sesuatu yang gampang. Bayangkan saja, sebuah perjalanan sepanjang 250 mil, di bawah terik matahari jazirah, melalui jalur yang tak biasa di tengah gurun pasir, dengan perbekalan dan 'alat transportasi' seadanya.Pun harus terus-menerus menghindar dari ancaman musuh yang selalu memburu dan ingin membunuh para rombongan.
Apakah segalanya berjalan mulus-mulus saja ketika sang Nabi telah tiba di Madinah? Kita membaca sejarah bahwa penduduk Madinah, kaum Muhajirin dan Anshar, menyambut kedatangan Nabi dengan penuh suka cita setibanya di sana. Namun sebenarnya itu sambutan selamat datang saja. Setelah itu, Nabi harus menghadapi masa transisi yang sulit, perlu kerja, dan kesabaran ekstra untuk menjalani semuanya.
Mungkin ya…

Tentang kerjaan lagi.

Pekerjaan menjadi hal yang sangat klasik dicari hampir semua sarjana di muka bumi. Ya, hanya hampir semua. Nyatanya memang tidak semua mencari pekerjaan. Ada yang memilih untuk menemukan sendiri pekerjaannya seperti ibu rumah tangga, ada yang memang tidak menuju kesitu, sampai pada ada yang justru menciptakan tempat kerja untuk orang lain. Selepas menjadi sarjana inilah label gelar dan pendidikan terakhir menjadi bawaan kemana-mana. Banyak dari kita yang sangat idealis untuk harus mendapatkan pekerjaan yang linier dengan prodi yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun di perguruan tinggi. Tapi tidak sedikit pula yang akhirnya melepaskan idelisme tersebut dan berakhir pada pekerjaan yang bahkan tidak linier sama sekali dengan prodi yang ia ambil. Lalu apakah kita boleh menyebutnya salah? Tidak sama sekali.