Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #faith

Mendikte Takdir

Suatu hari, suami (yang waktu itu masih jadi calon suami) pernah bilang kalau ia punya cita-cita untuk tidak mau pensiun di dunia perbankan. Hal ini jadi bahan diskusi kami sebelum menikah. Dan aku menyetujuinya saja, tanpa embel-embel kekhawatiran. Meskipun dia sedikit kaget kenapa aku nggakpapa. Kayak "beneran nih cewek mau diajak susah setelah bisa dikasih nafkah lebih dari cukup?" Hahaha. Setelah menikah, dengan kondisi kami berdua sama-sama bekerja, semua berjalan biasa saja. Sampai aku hamil, melahirkan, dan berputar menjadi ibu rumah tangga. Keluarga kami mengalami transisi pertama. Punya anak, dan hanya punya aliran pemasukan dana dari suami saja. Alhamdulillah, Allah sangat sayang dengan keluarga kami. Sungguh tak kurang sedikitpun rejeki yang kami terima. Hanya, ritmenya saja yang berbeda. Yaaa gimana ya dari aku yang tiap pagi ribet di dapur dan depan kaca buat siapin sarapan suami pun siap-siap ke kantor, terus berubah ke ngurus ompol bayi, begadang setiap malam, ...

Tentang pilihan.

Prolog tentang basket sepertinya akan sama di setiap tulisan. Yang pasti adalah moodboster, kesenangan, penurun kolesterol. Hingga segala tentangnya, bisa mengalahkan prioritas yang lain. Selebay ini, gilak. Padahal aku ngga jago. Main aja udah. Kalau jago mah udah ditarik sama sahabat semarang. Hahaha.

Ditinggal.

Selama kurun waktu dua minggu terakhir udah dua kali dapat kabar temen ditinggal ibunya meninggal. Kedua temenku ini perempuan, satu generasi, dan sama-sama belum menikah. Ibunya meninggal karena sakit, tapi tetap saja terkesan mendadak. Tidak ada yang tidak jatuh sejatuh-jatuhnya ketika pintu surganya diambil Sang Kuasa. Apalagi, entah mengapa, selalu ada cerita lain dibalik jawaban pertanyaan kronologis ajal menjemput ibu mereka.

Depresi.

Setelah nonton video Gita pas baru-barunya berita artis Korea bunuh diri itu, setelah pagi tadi ikut perawat puskesmas kunjungan rumah ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa), dan setelah suatu hari bersama perawat yang sama disodorin kertas blangko "tes kejiwaan"...aku ingin sangat ingin menuliskannya.

Pekarya

Kemarin, pas lagi di sela leyeh-leyeh scrolling instagram, sampailah pada postingan terakhirnya salah satu blogger favorit, mba @pungkyprayitno. Mbaknya ceritanya abis dari Banjarnegara, nih. Tepatnya bertandang ke sentra kerajinan keramik di Kecamatan Klampok. Ini postingan terdiri dari beberapa foto yang menggambarkan pesona kerajinan keramik berikut proses pembuatan kerajinannya. Turut bangga juga Mbak Pungky mengenakan kaos dengan logo (baru) pariwisata Banjarnegara. Ya endorse sih kayaknya . Sekilas liat foto-fotonya juga apik dan epic . Menarik hati untuk men- double click a.k.a menyukai postingan tersebut. Apalagi karena ada kontribusi mempromosikan salah satu aset pariwisata dan kekayaan karya Banjarnegara.

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, " nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)" Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan. Sebenernya program apaan sih?

yang paling susah dari berjuang

Tingkatan orang kebanyakan selama hidup di Indonesia cenderung sama dan flat . Dari kecil sampai tua nyaris sama. Dari kecil, kita akan selalu menemui teman-teman sebaya yang punya guyonan se-receh cerita kartun di hari minggu pagi dan menganggap tetangga kita yang duduk di bangku SMA adalah mbak-mbak dan mas-mas yang sangat disegani dan diidolakan. Sampai-sampai setiap mereka lagi pelajaran olahraga dan lari-lari lewat depan rumah, aku adalah orang pertama yang lari ngibrit keluar teras buat nontonin mereka. Ya, seabsurd itu. Menuju gede dikit, teman main kita udah beda. Ada yang udah beda tontonannya, beda kesenangannya, beda hobinya, sampai prestasinya. Sejak SD aja udah keliatan gimana masing-masing dari kita punya andil tersendiri dalam menunjukan siapa diri kita. Ada yang udah dibibit unggulkan untuk jadi atlet, penari, penyanyi, guru, dokter (kecil), dan lain sebagainya. Dan nggak jarang beberapa dari mereka ini bisa konsisten melanjutkan bibit unggulnya itu sampai dewasa. Ad...

Jogsint. (Jogja's Internship Journal) #1

Jogja masih terlalu bersahabat. Setidaknya setelah hari ke-8 magang ini, walaupun waktu terasa cepat berlari, atmosfer yang membuat panjang umur tetap tercium. Ngomong-ngomong soal panjang umur, setelah baca profil kesehatan DIY yang terbaru ternyata provinsi ini menduduki 3 besar daerah yang punya angka harapan hidup tinggi loh. Tapi di lain halaman, angka kesadaran perilaku makan buah dan sayur disini masih rendah. Atas hal mengapa angka harapan hidup DIY bisa tinggi saya tidak bisa menspekulasi sendiri tapi saya rasa tidak melulu soal kesehatan yang dijadikan alasan. Tapi juga kebahagiaan. Sejauh ini kantor cukup membuat saya belajar banyak hal. Dari yang teoritis hingga yang berbau magis. Perasaan, misalnya. Pada 4 hari pertama kami (rombongan Unsoed dan tambahan dari Stikes Surya Global, Jogja) ditugaskan untuk mempelajari Pergub No. 47 Tahun 2008 tentang Struktur, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 'Halah' banget to? Iyalah, jelas. Rasanya kok lah-kan...

Jogsint. (Jogja's internship Journal) #Prolog

Assalammu'alaikum, Agustus. Selamat datang, Jogja. Terhitung mulai seminggu terakhir ini saya menetap di mantan-kota-impian-yang-masih-jadi-candu-dan-rindu-yang-menggebu. Yap. Meski Jogja pernah punya sticky story untuk saya, tapi tetap saja ia tak bisa lepas dari daftar destinasi paling ingin sering disambangi. Sekalipun itu hanya berkeliling jalanan atau duduk di angkringan pinggir jalan yang sebenarnya di Purwokerto pun sama saja demikian. Lalu kali ini saya datang bukan untuk mengenang apalagi mengulang cerita yang sama.

#menuju20des

Ini adalah bukan pertama kalinya saya tergabung dalam suatu kegiatan yang bergelut dalam bidang sinematografi. #menuju20des adalah suatu proses dimana kreasi teman-teman penggerak seni di Banjarnegara khususnya, digalakkan, terutama dalam hal pemutaran film. Program ini dibuat menjadi serangkaian beberapa acara hingga puncaknya yaitu pada tanggal 20 Desember 2014. Keseluruhan rangkaian berupa pemutaran film dan diskusi di daerah Kali Palet Banjarnegara dan Khanza Banjarnegara serta mural untuk publikasi di beberapa titik kota. Hingga puncaknya tanggal 20-21 Desember 2014, diadakan Pesta Film Banjarnegara yang bertempat di Auditorium Kampus Politeknik Banjarnegara dengan tema ‘Efek Televisi’.

Hidup bahagia itu (tidak) sederhana.

Sesederhana jalan kaki dari stasiun lempuyangan ke bawah fly over di jam setengah lima sore bareng orang yang tepat. Bergandengan tangan nyebrang rel kereta bareng dan ngga diduganya bersamaan pesawat lewat di atas kami. Bergabung dengan penikmat sore dibawah jembatan, angkringan dan berbungkus-bungkus nasi kucing jadi saksi betapa senyum dari masing-masing kami begitu merekah.

Aku rindu kita

Hai, semesta. Rupamu tak ubah mengagumkan, ya. Sulit diprediksi. Bahkan untuk merusuhi bagian krusial di dalam tubuhku ini. Ya, hati. Aku ingin bercerita bahwa... saat ini, aku sering menjadi kalut akan aspek waktu dan finansial, tugas dan kesempatan, sehat dan istirahat, sepi dan ramai. Pernah suatu kali aku melontarkan suatu tanya, which one better? Hemat waktu atau hemat uang? Salah satu sahabat menjawab dengan penyadaran bahwa uang itu bisa dicari, sedangkan waktu hanya ada saat ini. Jadilah jawaban pertanyaanku direalisasikan dengan menggilai waktu tanpa terlalu memikirkan pendukung finansialnya. Alhasil, aku seperti tertampar oleh yang aku bebankan sendiri. Ya, waktu. Karena dia aku rindu kita..

Perjalanan

Memaknai perjalanan seringkali dilupakan banyak orang. Saya sendiri lebih suka menikmati tiap arah dan tujuan perjalanan dengan diam dan memasang headset lalu tidur, mengobrol jika ada teman, atau paling pol melamun sambil mata terlempar keluar jendela mobil. Sampai pada usia sudah mengharuskan untuk merantau ke kota tetangga, dan diseringkan pada rutinitas pulang kampung pada hampir di setiap masa kosong hari kuliah, saya jadi mempunyai banyak kesan kesiratan makna dari sebuah perjalanan.

Curhatan itu bernama rindu

19.19 15/08/2013 Selamat bertemu lagi, Purwokerto. Baru dua minggu aku meninggalkanmu. Tapi rindu belum juga muncul. Ah, iya. Ini terlalu cepat. Meskipun tidak ingin telat. Tapi ini sungguh terlalu cepat untuk rindu yang ada di rumah. Aku tak mengerti apa ini namanya. Harusnya perasaan ini ada saat aku jadi maba setahun silam. Tapi semua jadi keterbalikkan. Entahlah. Entah hanya karena alasan tekanan yang ada sekarang atau apa.