Langsung ke konten utama

Postingan

comeback.

 Setelah setahun menjadi ibu setelah setahun menjadi ibu rumah tangga setelah setahun menjadi sahabat anak di rumah setelah setahun penuh bergantung pada suami setelah setahun, kesempatan ada, ridho keluarga ada, dan anak bisa menerima. Aku kembali mencoba bekerja, di instansi yang sama beda lokasi. Welcome Puskesmas Sigaluh 2. Be nice please!

Unconditional love, live, laugh.

Ternyata jadi full mom for my baby N dan full wifey buat mas suami adalah jalan ninjaku. Dulu waktu masih ngantor dan lagi ngadepin banyak program yang bikin stress akut, pernah (bahkan rada sering, deng ) terbersit pikiran "Ya Allah jadi ibu rumah tangga aja ngurus rumah suami anak beres kayaknya enak ya" hahaha padahal kan ya semuanya wang sinawang. Pas gajian atau dapet jasa pelayanan ya memilih untuk mengubur cita-cita yang barusan terlontar. But Allah hear it, continues. So hello with me-in-either-now! Lepas tugas beneran dari kantor :) Terhitung sejak awal tahun 2020 ini aku resmi jadi ibu rumah tangga. Melahirkan dara cantik nan ginuk-ginuk, sempat tinggal bersama mertua dengan new born dan kelemahanku, lalu kembali hidup bertiga di kontrakan di kota dimana aku dan suami bersatu. Ohya, dan tambahan pandemi corona ini yang menjadi huru hara tokoh drama dalam kehidupan kami. Ya kehidupan kita semua sih.  Ada rasa haru yang mendalam karena saking bahagianya bisa merasakan...

Tentang pilihan.

Prolog tentang basket sepertinya akan sama di setiap tulisan. Yang pasti adalah moodboster, kesenangan, penurun kolesterol. Hingga segala tentangnya, bisa mengalahkan prioritas yang lain. Selebay ini, gilak. Padahal aku ngga jago. Main aja udah. Kalau jago mah udah ditarik sama sahabat semarang. Hahaha.

Ditinggal.

Selama kurun waktu dua minggu terakhir udah dua kali dapat kabar temen ditinggal ibunya meninggal. Kedua temenku ini perempuan, satu generasi, dan sama-sama belum menikah. Ibunya meninggal karena sakit, tapi tetap saja terkesan mendadak. Tidak ada yang tidak jatuh sejatuh-jatuhnya ketika pintu surganya diambil Sang Kuasa. Apalagi, entah mengapa, selalu ada cerita lain dibalik jawaban pertanyaan kronologis ajal menjemput ibu mereka.

Depresi.

Setelah nonton video Gita pas baru-barunya berita artis Korea bunuh diri itu, setelah pagi tadi ikut perawat puskesmas kunjungan rumah ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa), dan setelah suatu hari bersama perawat yang sama disodorin kertas blangko "tes kejiwaan"...aku ingin sangat ingin menuliskannya.

Perempuan menulis.

Siapa yang pernah nonton film Kartini? Atau ngerti banget deh cerita tentang Raden Ajeng ini? Menurut kamu, kenapa beliau jadi pahlawan emansipasi wanita? Yah, semua orang bisa menjawab dengan alasan dia berani memerangi keterpurukan kaum perempuan pada masanya. Secara jaman Belanda dulu perempuan dianggap cukup untuk menganut prinsip kasur, sumur, dapur. Jadi nggak boleh kemana-mana, nggak boleh sekolah, nggak boleh ini itu, sampai nikah aja dipaksa. Tapi Kartini hadir dengan pemikirannya yang diluar ekspektasi pada saat itu, untuk memerdekakan kaumnya, demi kemaslahatan anak cucunya pula. Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul. Kita semua tau, bagaimana sejarah menceritakan keposesifan jaman dahulu terhadap perempuan seperti apa. Lalu strategi untuk mengentaskan keterpurukan hadir—yang kita kenal—dari keberanian Kartini. Apakah di jaman itu perempuan yang punya pemikiran dan keberanian hanya Kartini saja? Apakah di masa sebelum Kartini ada perempuan lain yang mencoba menembu...

Generasi langgas dalam Wing Craft Expo

Menurut data BKKBN, kalangan usia produktif yang disini kita kerucutkan pada rentang usia 15-29 tahun jadi populasi terbesar di Indonesia abad ini. Yang kalau mau ditelaah, umur-umur segitu adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 80-90an hingga 2000an awal. Generasi ini sering disebut sebagai generasi millenials, atau di lain sisi disebut juga sebagai generasi langgas. Mereka menjadi jajaran penting di lingkup demografi Indonesia. Kenapa?