Langsung ke konten utama

Tulislah, maka semua akan tau.

Diluar sana ngga ada yang tau tentang kamu. Mereka ngga tau tentang kamu yang punya kebiasaan aneh di setiap pergi dan bangun tidur. Mereka ngga tau tentang kamu yang ngga suka kuning telur. Orang-orang kayak gitu ngga ngerti tentang kamu yang kalau minum yakult cuma mau segelnya dibuka seperempat senti. Orang-orang kayak gitu ngga ngerti tentang kamu yang enek kalau suruh minum susu putih. Mereka ngga tau tentang kamu yang ngga suka keju dimakan sendirian. Mereka ngga tau tentang kamu yang takut kodok. Orang-orang kayak gitu ngga ngerti tentang kamu yang susah tidur kalau ngga ada guling. Orang-orang kayak gitu ngga ngerti kalau makan nasi sama buncis plus kecap itu enak. Mereka ngga tau tentang kenapa kamu tetep aja makan pedes disaat dokter udah kasih rambu-rambu tentang itu. Mereka ngga tau tentang apa isi dibalik alasan tarikan bibirmu hari ini. Orang-orang kayak gitu ngga ngerti sakit di perutmu. Orang-orang kayak gitu tuh ngga ngerti apa-apa.. sampai kamu menuliskannya. Tuliskan sajalah, maka semua akan tau. Meski lalu mereka tetap tidak selamanya mengerti bagaimana membagi. Membagi pengertian itu untukmu pahami pun sesali. Akan segala hal kecil yang kadang terlewat karena kita berjalan terlalu cepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J