Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Ditinggal.

Selama kurun waktu dua minggu terakhir udah dua kali dapat kabar temen ditinggal ibunya meninggal. Kedua temenku ini perempuan, satu generasi, dan sama-sama belum menikah. Ibunya meninggal karena sakit, tapi tetap saja terkesan mendadak. Tidak ada yang tidak jatuh sejatuh-jatuhnya ketika pintu surganya diambil Sang Kuasa. Apalagi, entah mengapa, selalu ada cerita lain dibalik jawaban pertanyaan kronologis ajal menjemput ibu mereka.

Depresi.

Setelah nonton video Gita pas baru-barunya berita artis Korea bunuh diri itu, setelah pagi tadi ikut perawat puskesmas kunjungan rumah ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa), dan setelah suatu hari bersama perawat yang sama disodorin kertas blangko "tes kejiwaan"...aku ingin sangat ingin menuliskannya.

Perempuan menulis.

Siapa yang pernah nonton film Kartini?
Atau ngerti banget deh cerita tentang Raden Ajeng ini? Menurut kamu, kenapa beliau jadi pahlawan emansipasi wanita? Yah, semua orang bisa menjawab dengan alasan dia berani memerangi keterpurukan kaum perempuan pada masanya. Secara jaman Belanda dulu perempuan dianggap cukup untuk menganut prinsip kasur, sumur, dapur. Jadi nggak boleh kemana-mana, nggak boleh sekolah, nggak boleh ini itu, sampai nikah aja dipaksa. Tapi Kartini hadir dengan pemikirannya yang diluar ekspektasi pada saat itu, untuk memerdekakan kaumnya, demi kemaslahatan anak cucunya pula.
Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul. Kita semua tau, bagaimana sejarah menceritakan keposesifan jaman dahulu terhadap perempuan seperti apa. Lalu strategi untuk mengentaskan keterpurukan hadir—yang kita kenal—dari keberanian Kartini. Apakah di jaman itu perempuan yang punya pemikiran dan keberanian hanya Kartini saja? Apakah di masa sebelum Kartini ada perempuan lain yang mencoba menembus batas ya…

Generasi langgas dalam Wing Craft Expo

Menurut data BKKBN, kalangan usia produktif yang disini kita kerucutkan pada rentang usia 15-29 tahun jadi populasi terbesar di Indonesia abad ini. Yang kalau mau ditelaah, umur-umur segitu adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 80-90an hingga 2000an awal. Generasi ini sering disebut sebagai generasi millenials, atau di lain sisi disebut juga sebagai generasi langgas. Mereka menjadi jajaran penting di lingkup demografi Indonesia. Kenapa?

Project mangkir setahun

Suatu hari kulihat postingan pemain basket favorit yaitu @raisa_9 yang pakai kaos 'hooping with hijab'. Artinya kira-kira begini; HOOPS= bola memantul, bisa diartikan dengan bola basket. // HOOPING WITH HIJAB= bermain basket dengan tetap memakai hijab. Kaos ini jadi gerakan beliau untuk memasifkan bahwa bermain basket dengan tetap memakai hijab itu baik. Keren. Tidak membatasi ruang gerak dan tetap berprestasi.

Aku jelas tertarik dengan kaos tersebut. Singkat cerita belilah online ke orangnya langsung. Terus aku pakai di salah satu kesempatan waktu mendampingi tim putra FIKes Unsoed di suatu turnamen di kampus. Waktu foto pakai kaos ini aku post di lini masa, salah satu teman langsung dm (direct message) via instagram. Doi bilang, "Kenapa kita ngga bikin project olahraga tetap mengenakan jilbab itu keren!!!" (iya itu pakai tanda seru banyak emang bawaan orangnya begitu)

nyangkut di ring

Basket sudah seperti sahabat saya yang kalau senang atau susah bisa selalu ada, sejak SMP sampai sekarang. Salah satu pembunuh waktu dan pelipur lara ya pergi ke lapangan. Dribel bola, lari, shooting.

Selain memang suka, layaknya anak usia tanggung masuk tim basket sekolah, saya menjadi sedikit congkak karena merasa keren. Latihan rutin, ikut turnamen, juara, ikut tim kabupaten, belum kalau bisa ikut-ikut keluar kota. Selain itu, entah kenapa hal lain yang rasanya bikin keren adalah... kostumnya. Cewek pakai jersey basket, kaki semampai, sepatu dan kaos kaki nanggung, rambut dikuncir kuda melambai-lambai, lari-larian ngejar bola di lapangan. Beeehh!

quarter lyfe

ternyata, sudah sampailah aku pada situasi di tahap ini.
setiap hari atmosfernya kantor, kendaraan selalu dipegang, jarak yang tidak sebentar, hujan-hujanan, ketemu banyak orang, pembahasan penyelesaian masalah meluas, bapak ibu semakin menua, ditanya perihal 'kapan' jadi muntahan tiap saat, ribut isu perubahan status pegawai, managerial keuangan sendiri, toleransi tubuh hati dan pikiran sebagai yang sama-sama lelah tapi nggak bisa leyeh-leyeh terus, sudah merasa lingkaran semakin mengerucut (and I'm proud, sekarang tau mana yang murni mana yang B aja, kan? :)), dan hal lain yang muncul.

Hey, hampir seperempat abad kamu berkecimpung untuk ngerusuhin bumi ini. Apa yang perlu diresahkan? Tuntutan lingkungan untuk seusiamu? Merasa sepi karena tidak banyak waktu main-main lagi? Atau benci dengan galau yang faedah dan nirfaedah sering menghantui? Mana dewasamu?

Suatu hari, hal ini aku ceritakan ke kakak. Doi bilang, "quarter life crisis, itu namanya"
Aku pernah denger…

Minimalis

Hampir setiap minggu pagi terhitung sejak November 2016, kupunya kegiatan baru yaitu buka lapak di CFDnya Banjarnegara. Dari mulai bangun sebelum subuh sampai angkut-angkut barang pagi-pagi buta udah bukan jadi hal asing. Pengalaman bangetnya ya itu, penataan barang yang seabrek karena ini jualan makanan, bangun pagi banget, dan menerjang dingin sambil berusaha cepet-cepetan nyampe TKP biar dapet tempat ngelapak yang yo’i.
Yang mau jadi fokusku untuk dibahas disini adalah soal pengalaman penataan barang selama sudah setahun lebih ngelapak di pinggir jalan minggu pagi. Jadi kami (diriku dan adik) jualan roti maryam yang dimana tinggal manggang aja di pan dan lalu dikasih topping yang tersedia. Setiap sabtu malam (karena kalau sebut malam minggu terkesan ehm ya gitulah soalnya kami nggak main) kami pasti persiapan mulai dari monitor stok bahan baku, peralatan, sampai kendaraan. Nah disini pembagian tugas berjalan. Dari saya yang fokus di persediaan stok bahan baku, catatan keuangan dan…