Langsung ke konten utama

Pos

Last of this Ramadhan

Kalimat klise mulai bermunculan di berbagai benak ketika hari di bulan ini mulai berkurang jatahnya. Seperti, "wah nggak kerasa ya cepet banget udah mau lebaran aja" atau "rasanya baru kemarin mulai puasa" atau yang lain lagi "lusa udah lebaran aja. Padahal belom belanja macem-macem". Dan masih banyak lagi, baik yang berbau batiniah maupun lahiriyah.
Pos terbaru

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

impact

Saya pernah begitu dekat dengan orang yang sangat mengerti saya hobi baca, tetapi dia tidak. Lalu seiring berjalannya waktu, karena terlanjur saya sering membuat topik obrolan tentang novel-novel terbaru dari penulis favorit saya saat itu, dia jadi mengikuti. Entah jadi mengenal kesukaan saya atau bahkan jadi diam-diam ikut mencoba melirik isi bacaan saya.

krisis kepercayaan diri

"Kita terlalu pintar untuk menjadi bodoh, tetapi kita terlalu bodoh untuk merasa pintar"

Pernah nggak sih ngerasa kalau masing-masing dari kita punya sesuatu? Dimana mau ada orang lain yang sadar atau enggak, sesuatu itu bisa sangat melekat dalam diri. Punya kekuatan ambisi, tidak selalu tinggi tapi tidak juga begitu rendah. Apa lagi kalau bukan kemampuan. Orang bisa sebut itu bakat. Atau ada yang lebih suka menyebutnya talenta. Bebas semua bisa bilang apa.

On social media

Hampir sekitar dua tahun terakhir ini secara tidak langsung aku menjadi pemerhati social media. Bukan karena sok jadi aktif dan eksis di dalamnya. Tapi lebih ke wise up gimana orang-orang sekarang punya efek yang luaaaarr biasa dari penggunaan akun-akun yang mereka punya. Ya, se-luar-biasa itu sampai huruf a-nya harus aku banyakin. Sampai kadang kita lagi ngapain aja bayangannya ah nanti update ini ah, ah nanti update itu ah. Dimana lagi bisa kita temukan orang yang kalau mau makan bukannya baca doa dulu tapi fotoin makanannya dulu? yang kalau pergi ke suatu tempat harus wajib 'ain mengumumkan kepada khalayak lewat update-an locationnya? yang kalau sedih dikit diomong, seneng dikit diomong, punya barang baru dipamerin, dan lain sebagainya.

Sebenarnya nggak ada yang salah dari kecenderungan manusia yang emang suka 'pengen dilihat'. Dari apa yang mereka share di akunnya tersebut mendapat pujian atau komentar yang sebenarnya amat sangat receh aja udah seneng. Kadang ada juga …

Navigasi

Senin yang ceritanya long weekend kemarin, aku dan bapake bertandang ke suatu tempat untuk tujuan tertentu. Ceritanya dapet kontak orang yang mau dituju di instagram nih. Yaudah aku hubungi lah dia. Setelah menceritakan maksud dan tujuan aku ingin berkunjung, si mbak yang menerima respon kontak memberikan infomasi arah ke alamat tujuan.
Ceritanya di bio instagram dia udah ada info lokasi. Tapi cuma nama kecamatannya doang. Kutanya, sebelah mananya ya mba? Beliau bilang, "kalau dari arah kota perempatan pasar belok kiri, mba. nanti ketemu pertigaan, belok kiri lagi. Lurus aja terus nanti mentok nah itu rumahnya pas mentok jalan. Namanya mas ini"
Oke, kita ikuti..

Macan keluar kandang

Sebagai pengingat diri sendiri, dan untuk semua orang yang mengalami hal serupa.

Selamat datang pada kenyataan baru. Dimana kamu yang seorang pemimpi, petualang, pemikir keras tapi hati tak sekuat batu karas, harus berhadapan dengan dorongan untuk menepikan mimpi, meminimalkan tantangan, lebih dipacu untuk berpikir keras dengan hati yang terus memaksa menjadi-jadi sekuat batu karas.