Langsung ke konten utama

Pos

yang paling susah dari berjuang

Tingkatan orang kebanyakan selama hidup di Indonesia cenderung sama dan flat. Dari kecil sampai tua nyaris sama. Dari kecil, kita akan selalu menemui teman-teman sebaya yang punya guyonan se-receh cerita kartun di hari minggu pagi dan menganggap tetangga kita yang duduk di bangku SMA adalah mbak-mbak dan mas-mas yang sangat disegani dan diidolakan. Sampai-sampai setiap mereka lagi pelajaran olahraga dan lari-lari lewat depan rumah, aku adalah orang pertama yang lari ngibrit keluar teras buat nontonin mereka. Ya, seabsurd itu.

Menuju gede dikit, teman main kita udah beda. Ada yang udah beda tontonannya, beda kesenangannya, beda hobinya, sampai prestasinya. Sejak SD aja udah keliatan gimana masing-masing dari kita punya andil tersendiri dalam menunjukan siapa diri kita. Ada yang udah dibibit unggulkan untuk jadi atlet, penari, penyanyi, guru, dokter (kecil), dan lain sebagainya. Dan nggak jarang beberapa dari mereka ini bisa konsisten melanjutkan bibit unggulnya itu sampai dewasa. Ada y…
Pos terbaru

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J

Hijrah.

Kalau kata kisah, tidak ada hijrah yang mudah. Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah adalah 'percobaan' ketiga setelah dua peristiwa hijrah sebelumnya, ke Abisina dan ke Thaif yang tak mendapatkan sambutan yang ramah.
Pun perjalanan hijrah itu sendiri bukanlah sesuatu yang gampang. Bayangkan saja, sebuah perjalanan sepanjang 250 mil, di bawah terik matahari jazirah, melalui jalur yang tak biasa di tengah gurun pasir, dengan perbekalan dan 'alat transportasi' seadanya.Pun harus terus-menerus menghindar dari ancaman musuh yang selalu memburu dan ingin membunuh para rombongan.
Apakah segalanya berjalan mulus-mulus saja ketika sang Nabi telah tiba di Madinah? Kita membaca sejarah bahwa penduduk Madinah, kaum Muhajirin dan Anshar, menyambut kedatangan Nabi dengan penuh suka cita setibanya di sana. Namun sebenarnya itu sambutan selamat datang saja. Setelah itu, Nabi harus menghadapi masa transisi yang sulit, perlu kerja, dan kesabaran ekstra untuk menjalani semuanya.
Mungkin ya…

Tentang kerjaan lagi.

Pekerjaan menjadi hal yang sangat klasik dicari hampir semua sarjana di muka bumi. Ya, hanya hampir semua. Nyatanya memang tidak semua mencari pekerjaan. Ada yang memilih untuk menemukan sendiri pekerjaannya seperti ibu rumah tangga, ada yang memang tidak menuju kesitu, sampai pada ada yang justru menciptakan tempat kerja untuk orang lain. Selepas menjadi sarjana inilah label gelar dan pendidikan terakhir menjadi bawaan kemana-mana. Banyak dari kita yang sangat idealis untuk harus mendapatkan pekerjaan yang linier dengan prodi yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun di perguruan tinggi. Tapi tidak sedikit pula yang akhirnya melepaskan idelisme tersebut dan berakhir pada pekerjaan yang bahkan tidak linier sama sekali dengan prodi yang ia ambil. Lalu apakah kita boleh menyebutnya salah? Tidak sama sekali.

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

Teman kecil

Sejak kecil aku sangat amat suka bermain diluar rumah. Setiap pulang sekolah pasti cuma ganti baju dan langsung cap cuss ambil sepeda dan kelayaban sampai sore. Tidak jarang sampai hujan deras mengguyur kota aku baru pulang dengan basah kuyup bahkan dengan bangganya sambil manggil-manggil Bapak menunjukkan aku habis hujan-hujanan.