Langsung ke konten utama

Postingan

Minimalis

Hampir setiap minggu pagi terhitung sejak November 2016, kupunya kegiatan baru yaitu buka lapak di CFDnya Banjarnegara. Dari mulai bangun sebelum subuh sampai angkut-angkut barang pagi-pagi buta udah bukan jadi hal asing. Pengalaman bangetnya ya itu, penataan barang yang seabrek karena ini jualan makanan, bangun pagi banget, dan menerjang dingin sambil berusaha cepet-cepetan nyampe TKP biar dapet tempat ngelapak yang yo’i.
Yang mau jadi fokusku untuk dibahas disini adalah soal pengalaman penataan barang selama sudah setahun lebih ngelapak di pinggir jalan minggu pagi. Jadi kami (diriku dan adik) jualan roti maryam yang dimana tinggal manggang aja di pan dan lalu dikasih topping yang tersedia. Setiap sabtu malam (karena kalau sebut malam minggu terkesan ehm ya gitulah soalnya kami nggak main) kami pasti persiapan mulai dari monitor stok bahan baku, peralatan, sampai kendaraan. Nah disini pembagian tugas berjalan. Dari saya yang fokus di persediaan stok bahan baku, catatan keuangan dan…
Postingan terbaru

Pekarya

Kemarin, pas lagi di sela leyeh-leyeh scrolling instagram, sampailah pada postingan terakhirnya salah satu blogger favorit, mba @pungkyprayitno. Mbaknya ceritanya abis dari Banjarnegara, nih. Tepatnya bertandang ke sentra kerajinan keramik di Kecamatan Klampok.


Ini postingan terdiri dari beberapa foto yang menggambarkan pesona kerajinan keramik berikut proses pembuatan kerajinannya. Turut bangga juga Mbak Pungky mengenakan kaos dengan logo (baru) pariwisata Banjarnegara. Ya endorse sih kayaknya. Sekilas liat foto-fotonya juga apik dan epic. Menarik hati untuk men-double click a.k.a menyukai postingan tersebut. Apalagi karena ada kontribusi mempromosikan salah satu aset pariwisata dan kekayaan karya Banjarnegara.

wang sinawang

Semakin kemari semakin dikasih kesempatan besar untuk ketemu orang-orang yang nggak cuma dari lingkaran kita. Hal yang kayak gini ini yang sebenernya perlu kita sadari kalau kita hidup nggak sendirian dan saling bergantung. Nggak akan ada dokter kalau nggak ada yang sakit. Nggak akan ada polisi kalau nggak ada tindak kriminal. Nggak akan ada pemimpin kalau nggak ada rakyatnya. Nggak akan ada penikmat seni kalau nggak ada pekerja seni di dunia ini.

Doa Ibu

2012 adalah tahun dimana ada satu hari yang sama aku baru mulai masuk kuliah dan kakak wisuda. Sungguh kebanggaan untuk Ibu dan Bapak di sisi sukses mengukur ketepatan menjaga jarak kelahiran sampai waktu tempuh pendidikan kami, anak-anaknya. Begitupun setelah 4 tahun berselang, 2016 aku lulus kuliah, 2017 adik gantian mulai masuk kuliah. Alhamdulillah wasyukurilah, kami masih diberi kesempatan untuk merambah titik ini.

Sensitif

Ngerasa nggak sih akhir-akhir ini di sekitar kita lagi sering banget ada yang sensitif. Entah karena keadaan yang mendukung orang jadi sensitif. Atau memang orangnya aja yang nggak bisa menahan diri atau terlalu ngoyo makanya jadi sensitif. Kadang yang nggak ikut terlibat dalam suatu masalah juga bisa ikut sensitif hanya karena geli dengan hal yang terjadi. Seperti yang sekarang kalau baca atau liat berita isinya;
Memberitakan sesuatu dengan berlebihan (somehow emang kenyataannya yang begitu), ini itu jadi tiba-tiba haram, penegak kejujuran tentang uang ingin diselidiki, protes sana sini, hate speech, dan... ah, kalau di runut bisa habis hari cuma nulis daftar ke-sensitif-an yang ada sekarang.

Last of this Ramadhan

Kalimat klise mulai bermunculan di berbagai benak ketika hari di bulan ini mulai berkurang jatahnya. Seperti, "wah nggak kerasa ya cepet banget udah mau lebaran aja" atau "rasanya baru kemarin mulai puasa" atau yang lain lagi "lusa udah lebaran aja. Padahal belom belanja macem-macem". Dan masih banyak lagi, baik yang berbau batiniah maupun lahiriyah.

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?