Langsung ke konten utama

Sensitif

Ngerasa nggak sih akhir-akhir ini di sekitar kita lagi sering banget ada yang sensitif. Entah karena keadaan yang mendukung orang jadi sensitif. Atau memang orangnya aja yang nggak bisa menahan diri atau terlalu ngoyo makanya jadi sensitif. Kadang yang nggak ikut terlibat dalam suatu masalah juga bisa ikut sensitif hanya karena geli dengan hal yang terjadi. Seperti yang sekarang kalau baca atau liat berita isinya;
Memberitakan sesuatu dengan berlebihan (somehow emang kenyataannya yang begitu), ini itu jadi tiba-tiba haram, penegak kejujuran tentang uang ingin diselidiki, protes sana sini, hate speech, dan... ah, kalau di runut bisa habis hari cuma nulis daftar ke-sensitif-an yang ada sekarang.
Waktu nonton beberapa berita yang menyiarkan tentang salah satu merk mie instan dari negeri para oppa tidak berlabel halal, responku biasa aja. Mungkin karena nggak tertarik dan belum pernah makan itu juga. Tapi alasan lain adalah, kalau memang nggak halal yaudah nggak usah dibeli. Selesai. Lha terus kenapa kalau nggak berlabel halal? Jadi masalah gede banget dijual di Indonesia yang memang mayoritas muslim? Tapi kan kita hidup di negeri ini nggak sendirian, bro. Pikirin deh, sekarang kalau iya Indonesia adalah negara muslim, oke lah bisa di blacklist itu produk langsung karena nggak ada keterangan halal-nya. Tapi kan enggak. Kalau misal emang itu haram, dan kita sebagai muslim sudah tau, yaudah tinggal nggak usah konsumsi. Kalau karena hal itu lalu produk ini harus dicabut dari peredaran, terus yang tidak apa-apa mengonsumsi yang tidak halal mau beli itu gimana? Kasian dong..

Pasti sering denger tentang hak angket, kan? Apasih maksudnya?

Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat adalah sebuah hak untuk melakukan penyelidikan yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang memutuskan bahwa pelaksanaan suatu undang-undang dalam kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Yang sering kita dengar akhir-akhir ini selain mie instan tersebut adalah tentang hak angket yang ditujukan kepada KPK. Jujur sedih, sih. Kenapa ya niat mulia memberantas korupsi musti diinterupsi pakai hak angket segala? Oke kalau memang visi misi KPK tidak menuju kebaikan, terserah mau diselidiki bagaimanapun juga. Katakanlah boleh dilirik tentang hak angket skandal Bank Century atau Mafia Pajak. Itu jelas-jelas skandal. Liat judulnya aja udah emang perlu diselidiki sama DPR. Tapi entah mengapa, walau nggak suka politik, kusedih KPK mau di hak angket-in. Walaupun sempat ada yang mengatakan bahwa, "hak angket bisa membuat KPK lebih clean dan terlihat apa yang sebenarnya terjadi"

Lain lagi dengan berita tentang... banyak peraturan, prosedur, proses, yang di Indonesia sudah membudaya dilakukan tapi kadang menyimpang tiba-tiba dapat protes. Ingat berita tentang orang tua calon taruna AKPOL yang protes gara-gara merasa anaknya dipermainkan untuk tes masuk pendidikan polisi itu? Untuk sebagian orang yang pernah dan tau bagaimana seluk beluk proses penerimaan taruna-taruna seperti itu mungkin akan ikut bergumam menggerutu atau minimal mbatin di perasaan masing-masing. Kalau yang tidak tau menau? Apa bisa kita menutup mata hati dan telinga mereka untuk tidak mengorek lebih dalam terkait masalah yang terjadi? Bisa jadi karena hanya satu masalah terkuak, ke-kepo-an masyarakat bisa membuka lebih dalam.

Anak presiden dilaporin karena diduga menyampaikan kata-kata yang membuat nitizen tersinggung atau bahasa kerennya hate speech. Jadi si Kaesang ini emang rajin bikin vlog, dan di salah satu vlognya yang dimana dia ngomong ngalor ngidul tiba-tiba menyebutkan dua suku kata yang membuat salah satu penonton melaporkannya ke pihak berwajib. Padahal kalau mau diperhatikan, menurutku pribadi itu nggak ada unsur hate speechnya sama sekali. Mungkin memang ada beberapa orang yang menganggap dengan dipanggil 'wong ndeso' jadi diibaratkan ejekan. Tapi kurasa untuk beberapa konteks kata-kata ini cukup bisa dibuat candaan saja yang bisa ditanggapi dengan santai sambil ngopi. Cuman memang... alangkah baiknya kalau mau beropini apalagi di media sosial, apalagi latar belakangnya perlu dihati-hati, ya tetap harus hati-hati biar meminimalisir kesensitifan orang-orang. Orang-orang Indonesia.

Belom lagi banyak berita yang sering tersebar via apapun entah itu whatsapp, line, sms, dsb, yang dimana itu hampir selalu mengada-ada, hoax, dan berlebihan. Hal-hal yang semacam ini nih yang udah gampang tersebar gampang juga mempengaruhi si pembaca. Apalagi itu berita tersebar pas lagi genting-gentingnya suatu isu terjadi. Apalagi kalau si pembaca kebetulan unwell educated, mudah terpengaruh, kompor, lambe turah, tidak lalu mencari tau fakta yang sebenarnya, nah... gampang banget itu jadi sensitif. Kalau isinya baik sih mungkin nggak terlalu masalah. Tapi kalau beritanya tentang pemberontakan-pemberontakan? :(

Terus kenapa sih beritanya nggak ada yang bagusan dikit? Indonesia bikin gerakan yang muda yang berkarya kek. Reality show diganti ngeliput produksi karya anak muda apa gitu kek. Teknologi baru biar jalan aspal nggak gampang berlubang kek. Banjarnegara punya bandara kek. Banjarnegara bikin fly-over kek. Gaji pegawai kontrak naik kek. Eh.

Kalau udah begini, yakin mau diem aja?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J