Langsung ke konten utama

Saya dalam Temu Komunitas Film Indonesia 2016

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk gabung dalam kegiatan Temu Komunitas Film Indonesia 2016. Kegiatan ini kebetulan diadakan di Baturraden. Wah asyik dong deket lokasi kampus. Hehehe. Jadilah saya ikut bersama lima orang teman saya yang lain, yang tergabung dalam komunitas Godong Gedang Banjarnegara.

Pelancong dari Godong Gedang Banjarnegara bersama Bang Yani (Pengatur tempat tidur peserta yang amat sangat sabar dan pengertian) :)
Temu Komunitas Film Indonesia ini terdiri kurang lebih hampir 450an delegasi dari sekian puluh komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia raya merdeka. Dan sebagian besar dari mereka terbagi dalam beberapa program kelas di acara tersebut. Ada kelas penulisan proposal kegiatan, kelas pengelolaan pemutaran dan festival film, kelas pengelolaan teknis pemutaran film, kelas distribusi dan teknologi, kelas kritik dan apresiasi film, dan kelas penulisan skenario. Setiap peserta kelas masing-masing diberi pin dengan warna yang berbeda-beda, sesuai kelas yang diikuti. Kelas penulisan proposal kegiatan sendiri mendapatkan pin berwarna hijau muda.

Inti dari kelas ini adalah pemahaman logic dalam penulisan proposal kegiatan. Tidak hanya kegiatan film yang ditekankan namun juga dapat diterapkan pada kegiatan lain selain film. Jadi tidak ada penjelasan khusus mengenai format penulisan, tata cara menulis, bahkan praktek menulis di dalam kelas.

Pemahaman logic penulisan proposal disampaikan oleh Idaman Andarsomoko. Beliau menyampaikan mengenai mengelola management, merancang hasil, input s/d impact, indikator, sampai dengan monitoring dan evaluasi.

Dalam penulisan proposal seringkali kita fokus pada kegiatan. Jarang orang memikirkan hasilnya terlebih dahulu. Padahal,--dari kelas ini saya belajar--alangkah baiknya hasil dapat dipikirkan terlebih dahulu sebelum merancang sebuah kegiatan. Apasih yang ingin dicapai? Goal apa yang ingin diraih? Dan lain sebagainya. Setelah hasil atau tujuan akhir ditentukan, barulah dapat di-breakdown langkah apa yang dapat ditempuh untuk menuju hasil atau tujuan akhir tersebut dalam bentuk kegiatan-kegiatan.

Ngomong-ngomong soal tujuan, pasti yang ada digambaran kita adalah berupa kalimat yang mengandung kata kerja. Contohnya adalah; Membangun semangat belajar siswa. Sekilas memang terlihat benar. Namun, kata-kata ‘membangun’ tersebut merupakan bentuk kegiatan. Bukan hasil/tujuan. Dalam kalimat tersebut tugas kita hanya membangunkan semangat belajar siswa. Masalah setelah dibangunkan itu semangat mereka benar-benar muncul atau tidak, itu sudah bukan jadi tanggung jawab si pembuat kegiatan. Namun jika kalimatnya diubah menjadi; Siswa giat belajar, akan seperti apa bentuk kegiatannya nanti (bisa dengan motivasi untuk membangun semangat belajar, bimbingan belajar, atau program pengadaan LKS, dll) bebas dilaksanakan sesuai kreativitas pengelola kegiatan, dengan asumsi tujuan akhirnya adalah agar siswa bisa giat belajar. Saya harap ini mudah dipahami.

Sering kita dapati proposal yang penulisannya banyak mengandung kalimat majemuk. Kalimatnya panjang-panjang dan kurang mudah dipahami maksudnya. Idaman mengatakan bahwa sebaiknya hindari atau minimal kurang-kurangi lah kalimat majemuk. Selain agar mudah dipahami, para penerima proposal juga sebenarnya tidak terlalu butuh tulisan yang muluk-muluk. Asal ide jelas, konsep jelas, dan logis dari poin awal hingga akhir, dapat diperkirakan penerima proposal tertarik untuk mendanai.

Bagaimana soal format penulisan? Tidak ada panduan dan ketentuan khusus untuk sebuah proposal kegiatan. Pun karena yang disampaikan dalam kelas ini pure hanya pemahaman logis, jadi pembicara tidak memberikan ‘bekal’ format penulisan proposal yang baik dan benar. Terkadang beda komunitas, beda instansi, beda kegiatan pun dapat berbeda-beda dalam urutan format penulisan proposal. Ini bukan merupakan masalah. Sekali lagi selama ide jelas, konsep jelas, dan logis, proposal akan mudah diterima.


Tidak dapat dipungkiri bahwa pengajuan proposal pada intinya adalah soal ‘permohonan bantuan/ dana’. Apakah ada tips tertentu? Semua kembali lagi pada ide dan konsep dari kegiatan yang akan diajukan. Selain itu, karena format juga tidak dibakukan, proposal tidak perlu dibuat seperti tugas makalah sekolah yang sampai berlembar-lembar halaman. Cukupkan pada poin penting input s/d impact apa yang akan dicapai dan tidak perlu banyak halaman. Jika banyak penerima proposal tidak membaca bagian pendahuluan proposal dan langsung melirik poin anggaran, itu tidak masalah. Setidaknya buatlah anggaran yang juga logis. Jika dana yang dibutuhkan besar sinergiskan jika memang kegiatan dan hasil yang ingin dicapai juga besar.

Berkumpul bersama orang-orang dari segala warna dan karya di #tkfi2016 ini menjadi pengalaman baik tersendiri bagi saya. Tidak hanya ilmu yang didapat di kelas, tapi juga hasil obrolan santai di depan api unggun pun bisa berbuah informasi sampai ilmu baru khususnya di dunia perfilman. Tidak jarang dari para peserta memanfaatkan waktu luang mereka untuk berkeliling lokasi pertemuan ini untuk bergetrilya mencari teman baru, bahkan pacar baru mungkin. Hahaha.

Tanpa berani berspekulasi, saya kira ajang berkumpul komunitas seperti ini akan lebih sering diadakan. Mengingat akan kebutuhan tiap komunitas itu sendiri untuk berkumpul dan berbagi masing-masing apa yang mereka punya, serta isu-isu perfilman di Indonesia yang mudah di'hangat'kan lewat mereka juga.

Senang sekali bisa menjadi bagian dari kegiatan kemarin, di #tkfi2016. Jika ada kesempatan dan waktu lain lagi seperti ini, mungkin saya akan tanpa kuasa untuk menolak! (ara)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Karena Mahasiswa Sehat dari Masyarakat

Mahasiswa bukan hanya kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan rakyat biasa, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Karena kedudukannya, mahasiswa sendiri menjadi memiliki banyak peran dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlepas dari bidang mereka masing-masing.