Langsung ke konten utama

Sabtu Bersama Bapak

Menikmati kelenggangan waktu dengan mendengarkan cerita Bapak masih menjadi hal paling favorit sepanjang hidup saya. Apa saja beliau ceritakan. Mulai dari cerita  masa kecil yang sejak saya masih kecil (pula) hingga sekarang hafal kenakalan-kenakalan Bapak dulu, cerita sekolahnya, sampai cerita berita politik bahkan kisah bertemunya Bapak dengan Ibu dulu. Semakin saya dewasa, tak jarang diskusi kecil hingga besar mengenai beberapa hal kami lalui. Dari yang sepele enye-menye kenapa mobil Avanza lebih banyak berseliweran di jalan daripada Xenia lantas sepanjang perjalanan 50 km kami kurang kerjaan menghitung mobil Avanza yang terlewati, hingga perdebatan topik di tiap menjelang lebaran soal kenapa 1 Syawal-nya Muhammadiyah dengan 'Pemerintah' suka beda. Selain bercerita, Bapak juga orang pertama yang mengenalkan saya dengan musik. Dibiasakan mendengarkan lagu anak-anak sejak sebelum sekolah, dikenalkan pada alat musik organ pada saat saya TK, hingga saat ini di rumah alat musik lengkap meladenin saya sekeluarga untuk accoustic-jamming, cover lagu, atau sekedar menghilangkan penat. Dibalik kebiasaan bercerita, diskusi dan main musik, Bapak juga mengajarkan kami--saya, kakak, dan adik--untuk terbiasa membaca. Membaca apapun. Dari komik, majalah, kumcer, novel, sampai naskah Khotbah Jumat Bapak. Beliau yang menyempurnakan untuk menjadi guru kedua kami setelah Ibu. Ibu memang madrasah pertama soal apapun. Apapun. Dan Bapak menyempurnakan perannya dengan menjadi guru ekstrakurikuler di madrasah yang Ibu buat. The other side of penyaluran-minat-bakat and the other kind of true friendship.

Pertengahan tahun 2015 kemarin saya penasaran dengan novel barunya Aditya Mulya. Sebenarnya novel ini sudah ada sejak tahun 2014, namun baru booming dan sampai di telinga saya sekitar awal 2015. Saya baru mendapatkan novel tersebut pada pertengahan bulan Juli 2015. Sampai sekarang, setelah sekian puluh buku yang saya baca, walaupun memang cenderung sederhana dan tidak berat dalam penulisan cerita, Sabtu Bersama Bapak masih menjadi kebahagiaan yang--sejak pertama kali membacanya saya langsung punya ide ini--patut ditularkan ke orang lain.

Setelah hanya saya pajang di lemari buku di perpustakaan kecil di rumah, akhir tahun kemarin saya baru menjalankan misi. Tidak hanya meminjam-minjamkan novel ini kepada teman-teman saya yang notabene memang hobi membaca juga, tapi saya ingin benar-benar 'menularkan' after effect yang selalu saya rasakan setelah membaca novel ini.

Saya berikan kesempatan membaca novel Sabtu Bersama Bapak kepada tiga teman saya. Semuanya laki-laki. Masing-masing mereka punya latar belakang keluarga yang berbeda. Yang saya niatkan adalah ketiga teman saya itu mendapat maksud dari begitu banyak pesan sang Bapak dari tokoh novel, disamping latar belakang keluarga mereka yang berbeda.

Sebelum hari Natal kemarin, teman--lebih pantas disebut perusuh dan sahabat yang paling rela direpotkan dalam kondisi apapun--saya baru ulang tahun. Sayang, ulang tahun dia lewati di ruang sidang pengadilan. Saya kaget saat pagi-pagi hari itu saya kirim voice note ucapan ulang tahun, dia membalas kalem. Bukan dia banget. Dia bilang, saya orang pertama yang kasih ucapan selamat ulang tahun. Bahkan dia sendiri sempat lupa hari itu tanggal berapa. Ternyata bertepatan dengan hari pertama persidangan kasus yang kebetulan melibatkan Papanya. Tanpa kuasa untuk berspekulasi, sahabat saya satu ini yakin bahwa Papanya tidak bersalah. Dia cerita, sejak Papa ditahan, Mamanya seperti kehilangan semangat hidup. Bahkan dia sempat bilang, "Walaupun suatu saat nanti Papa pasti diambil Allah, aku tau, Ra. Tapi kenapa kayak gini.. aku sayang Papaku, Ra.. Aku kasian liat Mama di rumah nanyain ke aku Papa udah makan apa belum tapi aku cuma bisa diem begitu Mama malah nangis abis itu,". Selang sekitar seminggu setelah itu, saat dia mampir ke radio tempat saya siaran, sengaja saya siapkan kado ulang tahun untuknya tanpa dibungkus. Satu novel Sabtu Bersama Bapak dengan sticky note menempel di covernya bertuliskan "Happy Legal Age!".

Tak sampai dua hari lewat, tiba-tiba tengah malam dia chat. Ngomong panjang lebar. Yang awalnya saya tidak berharap apapun selain minimal dia mau membaca halaman pertama novel itu--well, dia nggak hobi baca sama sekali--tiba-tiba saya dapat testimoni seperti ini;
"Ara, makasih buat kadonya. Awalnya aku ngga terlalu berekspektasi juga dengan isi bukunya, karena emang, aku sama sekali bukan orang yang bisa baca buku lama, karena pasti ngantuk dan ngga selese, pun setelah kamu bilang kalo buku ini biasa aja. Aku ngomong kayak gini karena aku juga masih belum percaya, buku ini buku pertama yang aku baca sampe selese tanpa ngantuk sedikitpun. Bahkan sukses bikin mataku berkaca-kaca.
Aku orang  yang masih labil, masih lagi bangun pendirian, jadi masih belum bisa sepenuhnya independen, dan banyak kepengaruh film-film yang aku tonton dan aku baca. Dan buku ini yang paling berpengaruh buat aku sampai saat ini. Mungkin emang aku berlebihan, tapi ini nyatanya, sungguh, makasih banget yaaa :) 
Semoga kamu dapet jodoh yang bisa sama-sama mengembangkan diri dan saling membangun. Amin :)"

Saya hanya membalas sebisa saya bertutur waktu itu. Sama-sama trenyuh, soalnya. Hehehe. Alhamdulillah, misi pada sasaran pertama berhasil. :)

Teman laki-laki yang saya kasih baca novel ini selanjutnya.. dia broken home, sejak sekolah dasar kelas sekian (demi kode etik saya samarkan clue-clue yang ada saja ya :) hehe). Tidak sedang ulang tahun atau apa memang. Namun suatu hari saya pernah janji ingin memberi satu bacaan itu ke dia. Pun tak disengaja dia juga ingin memberi buah tangan berupa novel yang sedang sangat saya tunggu-tunggu. Jadilah kami barter bacaan. Padahal sih dia juga bukan tipe orang yang suka baca. Hahaha.

Tak jauh waktu, akhir Desember tahun lalu juga kami diberi kesempatan bertemu (lagi!). Iya, ceritanya dia terlampau sering ada di kota nun jauh disana demi sesuap nasi dan sebongkah berlian untuk calon istri tercinta. Halah. Saat saya ikut mengantarkannya menuju perantauan kembali, novel Sabtu Bersama Bapak saya berikan. "Kalau lagi selo aja bacanya, hehehe.." kata saya saat itu, mengingat kesibukannya melampaui Presiden Jokowi yang kayaknya nggak punya waktu untuk melirik begituan untuk sekedar menemani waktu santai. Hehehe.

Beberapa hari setelah itu, malam-malam kami asyik ngobrol via chat. Karena saya ngantuk duluan, jadi saya pamit buru-buru tidur. Katanya dia mau baca novel itu. Senang sekali mendengarnya. Ternyata tidak lama setelah hari itu, dia kembali mengirim chat, laporan kalau sudah berhasil menyelesaikan novel Sabtu Bersama Bapak secara seksama. Testimoninya?
"Makasih ya.. jadi inget keluarga yang namanya dipake dibelakang nama saya. Yang sekarang yang mengakuinya cuma saya. Baca buku ini jadi iri dulu ngga pernah ngrasainnya. Yang udah meninggal aja masih mikirin yang idup.. Lha saya kebalikannya. Hehehe. Kelar baca nih, makasih yaa.."
Selanjutnya, hanya Allah dan dia yang tau kemana kehidupannya akan berlanjut. Waktu saya tanya, "Kepikiran buat ngehubungin bapak ibu ngga?". Dia cuma bilang pasti-nanti-ada-saatnya. Bukan sekarang. Well, yang saya yakin cuma ngga ada orang tua yang ngga mikirin anaknya kok, mas. Kamu ngga sendirian. Bangga liat kamu yang sekarang bisa survive abis-abisan. Meski dibilang punya kesempatan banget buat jadi brutal dan nakal, kamu ngga pernah belok kesitu. Semoga berkah kerja dan impian kamu selanjutnya. :)

The last guy is, teman ngobrol saya di kampus. Ini anak tambun dan menyenangkan. Tipe orang yang suka learning by doing. Kebetulan terlihat selalu ceria dan berlatar belakang keluarga yang (sangat) baik-baik saja. Satu lagi, yang ini suka baca. Karena sering tukar pikiran tentang apapun, saya juga kepikiran buat kasih baca novel ini ke doi. Dengan tanpa spekulasi dan ekspektasi apapun. Takut PHP soalnya. Hehehe.

Hanya selang sekitar dua hari setelah saya kasih pinjam (iya yang ini cukup saya pinjamkan. hehehe._.v) novel Sabtu Bersama Bapak, dia mengembalikan langsung sesaat setelah rapat di kampus bubar. Katanya;
"Ini, Ra. Makasih banget ya! Gokil. Hahaha. Kalau ada novel ginian lagi kasih tau ane yah!"
Just it. Udah. Entah karena saat itu masih pekan UAS yang notabene waktu kita tersita oleh belajar dan belajar, atau karena dia juga suka baca buku terus ini novel just as simple as that, atau dianya salting nemuin saya? Hahaha. Entahlah.

Suatu hari Bapak saya pernah tanya, setelah saya cerita soal ketiga teman laki-laki saya ini, "teman kamu, laki-laki, ada ngga yang kalau ngobrol itu ngobrolin masa depan.. abis ini mau ngapain.. apa yang akan dicapai selanjutnya..". Saya jawab, ada.

Kata Bapak,
"Beruntung dan bersyukurlah bagi orang yang punya kesempatan untuk belajar dari keluarga yang harmonis, bacaan yang bermanfaat, dan pengalaman yang membaikkan. Dalam hidup tidak ada teori semisal, "Menjadi Orang Tua yang Baik dan Benar" harus satu... lalalala.. dua..., seperti itu tidak ada. Dari pengalaman orang lain lah kita belajar yang sebenarnya. Salah satunya lewat seperti itu tadi, yang kamu lakukan buat teman-temanmu."
Thats why selama ini Bapak ngga pernah kasih petuah atau omongan ke saya berupa poin-poin yang berawal kata 'harus'--kayak buku pelajaran sekolah. Lebih sering lewat cerita, pengalaman, dan semua itu sering terangkum dan Bapak haturkan melalui sebuah bacaan.

Yang pasti, dari ketiga pengalaman teman saya di atas, saya jadi merasa, kalau pendidikan karakter lewat membaca itu perlu. Tentang apapun itu.

Yuk, membaca! :)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

Karena Mahasiswa Sehat dari Masyarakat

Mahasiswa bukan hanya kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan rakyat biasa, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Karena kedudukannya, mahasiswa sendiri menjadi memiliki banyak peran dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlepas dari bidang mereka masing-masing.

Kapan?

Kapan wisuda?
Banyak yang nanyain, dan akan aku jawab. H-1 wisuda nih!
Bagaimana perasaannya? Tanpa dipungkiri ternyata biasa aja hahaha. Awalnya aku sendiri mengira, semakin mendekati hari H pasti akan semakin tidak sabar untuk pakai toga dan masuk graha. Nyatanya semakin banyak yang diurus, semakin banyak yang difikirkan, Semakin mendekati hari H malah semakin belom pengen lepas dari kampus ;(