Langsung ke konten utama

yang paling susah dari berjuang

Tingkatan orang kebanyakan selama hidup di Indonesia cenderung sama dan flat. Dari kecil sampai tua nyaris sama. Dari kecil, kita akan selalu menemui teman-teman sebaya yang punya guyonan se-receh cerita kartun di hari minggu pagi dan menganggap tetangga kita yang duduk di bangku SMA adalah mbak-mbak dan mas-mas yang sangat disegani dan diidolakan. Sampai-sampai setiap mereka lagi pelajaran olahraga dan lari-lari lewat depan rumah, aku adalah orang pertama yang lari ngibrit keluar teras buat nontonin mereka. Ya, seabsurd itu.

Menuju gede dikit, teman main kita udah beda. Ada yang udah beda tontonannya, beda kesenangannya, beda hobinya, sampai prestasinya. Sejak SD aja udah keliatan gimana masing-masing dari kita punya andil tersendiri dalam menunjukan siapa diri kita. Ada yang udah dibibit unggulkan untuk jadi atlet, penari, penyanyi, guru, dokter (kecil), dan lain sebagainya. Dan nggak jarang beberapa dari mereka ini bisa konsisten melanjutkan bibit unggulnya itu sampai dewasa. Ada yang beneran jadi dokter pas udah gede, beneran jadi guru, beneran jadi penyanyi, beneran jadi atlet, pokoknya yang pasti beneran jadi 'orang'.


Dulu, sejak kecil aku tidak se-spesifik yang mikir dan kagum sama satu hal aja. Aku bisa seneng banget main dokter-dokteran sama boneka ditempelin stetoskop, kagum banget kenapa Bapak bisa main hampir semua alat musik, bisa penasaran sama satu bidang olahraga yang sampai sekarang bisa masih cinta setengah mati, bisa yang masih betah berlama-lama baca komik sampai buku non-fiksi, sampai kepikiran pengen jadi fotografer dan bisa bikin film.

Itu baru yang bener-bener masih terpatri sampai sekarang. Sisanya masih banyak yang suka tiba-tiba muncul yang dari kecil diajak ini itu tapi akunya nggak betahan jadi anak. Mungkin itu yang dari dulu bikin aku punya banyak keinginan tapi nggak semuanya gampang terwujud. Disisi lain walaupun memang setiap anak itu istimewa, tetap tidak ada anak yang tidak punya bakat. Pun tidak bisa anak harus bisa semua.

Dan untuk sampai di titik jadi bisa, entah kemampuan dan keinginan apapun itu, kita telah mengenal yang namanya usaha dan doa. Mau orang tua kamu kaya rayanya kayak apa, pejabat atau hanya pedagang biasa, tapi kamunya nggak usaha sendiri ya percuma. Mau usahamu sekeras apa, mau waktumu sepanjang apa, tapi nggak dilengkapi dengan doa ya percuma.

Tapi sering kita lupa satu hal. Usaha keras dan doa panjang ternyata tidak punya tanggal kadaluarsa. Padahal kadang di tengah jalan ketemu bosan, lelah, dan rasa ingin menyerah. Atau pada kenyataannya tak jarang kita merasa sudah selesai mencapai, lantas menghentikan perjuangan. Apa yang salah? Apa yang paling susah dari perjalanan ini; berjuang?

Yang paling susah dari berjuang adalah mempertahankan mood.

Banyak yang kurang perenungan ketika kita sedang menuju mimpi. Salah satunya komitmen menuju jalan pencapaiannya. Bisa menjaga hati atau tidak? Bisa mengatasi cuaca buruk di tengah perjalanan atau tidak? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.

Aku rasa tidak ada yang bisa bilang kalau ini terlalu dini untuk membicarakan hidup di usiaku sekarang. Tapi kurasa semua punya cara hidupnya masing-masing. Dan masing-masing punya cara berjuangnya sendiri.

Yang terpenting jangan lupa mantra ini, ajakan Rasul melalui firman-Nya; Bahwa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya. Bahwa yang bersabar akan beruntung.

Man Jadda Wajada
Man Shabara Zafirah

Komentar

  1. fase pencarian jati diri manusia, semua orang saya yakin sedang mengalaminya saat ini, salam kenal : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. Salam kenal juga :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Kapan?

Kapan wisuda?
Banyak yang nanyain, dan akan aku jawab. H-1 wisuda nih!
Bagaimana perasaannya? Tanpa dipungkiri ternyata biasa aja hahaha. Awalnya aku sendiri mengira, semakin mendekati hari H pasti akan semakin tidak sabar untuk pakai toga dan masuk graha. Nyatanya semakin banyak yang diurus, semakin banyak yang difikirkan, Semakin mendekati hari H malah semakin belom pengen lepas dari kampus ;(