Langsung ke konten utama

Penegur

Sebagian besar dari kita akan selalu baru menyadari suatu hal itu baik ketika di akhir masa. Seperti halnya diingatkan untuk hati-hati ketika jalan, awalnya kita anggap basa-basi. Tapi ketika kita meremehkan itu, datanglah imbasnya. Bisa jatuh atau tersandung. Padahal sudah diingatkan secara baik-baik untuk hati-hati.

Seperti halnya diingatkan untuk mengerjakan suatu tugas tepat pada waktunya. Sering dari kita menganggap remeh dengan bergumam, "ah nanti saja". Padahal, sudah diingatkan untuk tidak menunda. Baru sadar tidak baiknya ketika di akhir waktu habis, semua serba sulit. Tugas menumpuk, istirahat kurang, terlebih tidak ada yang menemani. Yha.

Dan jika sekarang kau berada di sisi seseorang yang hobi menegur kebaikan, semenyebalkan apapun cara dia menyampaikan teguran itu, dengarkan. Karena pada dasarnya, memang orang lain yang berperan 'melihat' kita. Diri kita sendiri montirnya. Montir tidak akan bisa berjalan tanpa tau arah dan, terkadang, perlu navigator.

Maka bersyukurlah bagi yang masih memiliki semangat beribadah di awal waktu, bekerja di awal waktu, pun yang semoga bisa menjemput haknya di awal waktu. Dengan dampingan penegur yang selalu ada dan setia, dan kedekatan menuju-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J