Langsung ke konten utama

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".


Aku menoleh dan tersenyum, "Lagi mau wawancara kerja mba. Hehe.."

"Wah dimana?" si mbak terlihat antusias dan ikut tersenyum.

Berawal dari situ obrolan kami jadi menghangat. Selayaknya obrolan dengan orang baru bertemu di suatu tempat secara random, pertanyaan asal dan pekerjaan masing-masing menjadi daftar pertama pertanyaan klasik. Tapi disini ada yang beda.

Mbaknya saat itu bekerja di salah satu supplier produk di kota yang kami jejaki saat itu. Sebenarnya dia orang pusat (pegawai dari perusahaan pusat tempat dia bekerja) bukan yang sengaja memosisikan di kota yang sebenarnya memang jadi kampungnya ini. Kondisi dia sedang hamil 9 bulan saat dimana aku bertemu dengan mbaknya itu. Perawakannya kecil mungil menjadikan perutnya terlihat sangat besar. Wajahnya putih bersih meneduhkan. Sayangnya sampai kami berpisah sama-sama berpamitan untuk melanjutkan aktifitas masing-masing tidak tau nama masing-masing. Lucu juga.

Setelah mbaknya tau aku lulusan baru di salah satu universitas disitu, mbaknya cerita adiknya juga sepantaran denganku. Dan mengakui hal yang sama tentang susahnya cari kerja. Hidup baru dimulai, katanya.

Mbaknya yang bekerja sebagai utusan dari kantor pusat, sedikit banyak merasakan bekerja bersama sekian banyak orang yang berbeda latar belakang, kepribadian, lini laku, dan kebersyukuran. Dia cerita banyak tentang fenomena tenaga kerja sekarang (khususnya yang muda-muda) dalam menghadapi pekerjaan dan mensyukuri pekerjaan.
"Sebenarnya kalau mau ditelaah banyak ya orang-orang lagi cari kerjaan. Yakayak kamu gini.. lha ini tiba-tiba ketemu jebule mau interview kerja. Kayak adiku ya juga ngga beda jauh lagi cari kesana kemari. Tapi kita yang di perusahaan kok merasa susah ya cari tenaga kerja. Sekalinya dapet udah diterima, kerjaannya ngeluh. Gajinya kurang lah, ngga sesuai sama beban kerja lah, tekanannya banyak lah, terus akhir-akhirnya ngga lama resign.. lah si kepriwe."
 Disitu aku merasa tercambuk. Memang benar apa yang dibilang sama mbaknya. Kebanyakan dari kita ingin dapat kerja yang bagus, linier dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh, sedikit tekanan tapi gaji besar. Ketika itu semua tidak didapat, keluhan muncul. Capek lah (jelas lah!), bosen lah, nggak kuat lah, dan lah-lah yang lainnya. Padahal kalau mau mundur ke beberapa waktu di saat belum ada kerjaan, kita juga ngga jauh beda kerjaannya. Ngeluh. Nganggur ngeluh, punya kerjaan ngeluh. Tabiat si emang yah manusia.

"...padahal kita perusahaan butuh lho tenaga kalian. Udah seneng gitu dapet anak muda masih semangat, trengginas, keliatannya bisa diandalakan. Tapi kok kerjaannya ngeluh terus. Gampang minta keluar."

Aku sendiri jadi ingat orang terdekatku sendiri juga mengalami hal seperti yang diceritakan mbaknya. Kerjaan banyak, capek minta ampun, pulang malam terus, lembur terus tapi ngga ada 'tambahan' buat lembur. Walau pendapatan lumayan sepadan, tapi sebagaimana tadi aku bilang tabiat manusia, yang namanya kerja begitu emang jadi kita kepikiran... itu kerja atau dikerjain?

"...ya mbok bersyukur gitu. Dari awal kan butuh kerjaan kan. Terus udah dapet. Harusnya bersyukur. Diluar sana banyak yang pengen duduk di posisi kamu sekarang. Dulu kamu juga menginginkan posisi yang sudah kamu capai sekarang. Kerja itu konsekuensi. Ngga ada yang instan. Kita juga tau kita kerja buat cari apa. Tapi kadang yang jadi pikiran sempit orang ya itu. Hanya uang ya mba..."

Tersentil lagi. Sungguh diskusi pagi sebelum wawancara yang epic. Walaupun sedikit setuju sedikit tidak, saya tetap tersenyum mengiyakan apa yang mbaknya utarakan. Benar juga sih ya, dan ini berlaku ngga cuma di kerjaan saja. Tapi di semua lini kehidupan. Sekolah, kuliah, kerja, rejeki lainnya. Bahwa yang jadi acuan kita jangan cuma materi dan apa yang terlihat di dunia. Karena apalah artinya wong apa yang kamu lihat dan rasakan di dunia memang tabiatnya tidak pernah memuaskan. Pasti ada aja yang lebih. Pasti ada aja yang kurang. Segimana ngerasa 'pas' itu sangat tergantung dari persepsi kita masing-masing. Dan segimana ngerasa 'pas' itu sangat tergantung dari kecukupan bersyukur kita layangkan kepada Yang Punya Segalanya.

Disini tidak ada penghakiman bahwa kita tidak boleh keluar dari belenggu yang tidak nyaman, tidak. Tugas kita tetap menjadi lebih baik dari masa ke masa. Allah pun berkata demikian, bukan? Dengan selalu berusaha membaikkan diri usahamu akan lebih diberkahi, dengan bersyukur lebih sering rejekimu akan ditambah. At least tetap berusaha cari dan jadi yang lebih baik. Jangan lupa bersyukur untuk melihat apakah aku pantas dengan keadaan seperti ini menyekutukan Tuhanku dengan mengeluh?

Komentar

Pos populer dari blog ini

Times.

"Time is money" - entah siapa yang memulai menulis ini. Sebagaimana kita menghargai waktu, hanya sebanding dengan bagaimana kita menghargai hidup ketika kita sedang kere alias ngga punya duit sama sekali. Kutipan diatas tadi jelas kita hapal diluar kepala. Saking di luar kepalanya sampai hilang mengentah kemana perginya. Karena ada saja ditiap sepersekian detik suatu hari melaju sesuai iramanya, manusia-manusia di bumi ini mengeluh akan waktu yang kurang lantas memenjarakan prasangka baik akan rejeki yang dicukupkan.

Karena Mahasiswa Sehat dari Masyarakat

Mahasiswa bukan hanya kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan rakyat biasa, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Karena kedudukannya, mahasiswa sendiri menjadi memiliki banyak peran dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlepas dari bidang mereka masing-masing.

Saya dalam Temu Komunitas Film Indonesia 2016

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk gabung dalam kegiatan Temu Komunitas Film Indonesia 2016. Kegiatan ini kebetulan diadakan di Baturraden. Wah asyik dong deket lokasi kampus. Hehehe. Jadilah saya ikut bersama lima orang teman saya yang lain, yang tergabung dalam komunitas Godong Gedang Banjarnegara.