Langsung ke konten utama

Teman kecil

Sejak kecil aku sangat amat suka bermain diluar rumah. Setiap pulang sekolah pasti cuma ganti baju dan langsung cap cuss ambil sepeda dan kelayaban sampai sore. Tidak jarang sampai hujan deras mengguyur kota aku baru pulang dengan basah kuyup bahkan dengan bangganya sambil manggil-manggil Bapak menunjukkan aku habis hujan-hujanan.


Hobi bermain menjadikan temanku ada dimana-mana. Dari ujung ke ujung kompleks. Saking beragamnya teman yang aku temui setiap harinya menjadikan aku sedikit banyak menilai mereka baik dari segi fisik, perilaku, sikap, sampai kebiasaan nakal-nakalnya anak kecil yang suka nggak karuan dan minta dibalang sandal. Parahnya, karena sejak kecil aku sudah sok jagoan padahal badan aja masih kalah dengan teman yang selalu menang tabok-tabokan, aku jadi mudah menilai orang hanya dengan mengenal lakunya saat kecil. Padahal itu bisa jadi kesalahan besar. Aku diberi kejutan demi kejutan setelah sebesar ini aku hidup dan melihat teman-temanku semasa kecil lewat media sosial. Yah, seiring berjalannya waktu dan masa yang harus dilewati kami, pertemuan langsung menjadi barang langka dan mahal harganya. Padahal jarak rumah orang tua kami masih bisa dilampaui sandal yang dulu mau saling dibalang.

Dulu aku tumbuh dari perempuan kecil yang pecicilan dan tomboynya minta ampun. Kemana-mana naik sepeda tanpa standar, rambut pendek kusam dan bau matahari. celana kolor pendek jadi idola, jatuh dari pohon itu biasa, sampai pulang ke rumah kalau belum basah karena hujan-hujanan atau baju kotor karena mainan perosotan di tanah kebun orang ya belum 'aku' banget rasanya. Karena merasa besar dan dominan, tidak jarang aku yang sering mempengaruhi teman-teman untuk ini itu. Ngatur-ngatur, ngajak kesana kemari, kadang juga gampang kesel, kalau ada yang ngga sesuai dengan keinginan pasti ngambeknya keluar. Pulang gasik ke rumah dengan muka bersungut-sungut, banting sepeda sekenanya, masuk rumah tanpa salam, terus masuk kamar banting pintu dan nangis dibalik bantal. Yah, namanya juga anak kecil kecewa gimana sih. Walau diluarnya jagoan, hati tetep aja hello kitty.

Dari situ, dari dominannya aku, sering aku menganggap akulah yang paling benar. Paling tau. Yang lain cuma dayang. Hal ini yang bikin aku terkaget-kaget ketika udah sebesar dan setua ini mendapati teman-temanku yang dulu pernah aku pandang sebelah mata sekarang bisa hidup menjadi mereka yang sebenarnya, berkarya, populer, pintar, berkarir, dan... beda. Bedanya adalah, mereka sudah tidak seasyik waktu kecil lagi yang tiap siang bisa diajak sepedaan keliling kompleks, yang mau bantuin bikin perosotan kalau ada lahan yang landai di kebun orang, yang mau hujan-hujanan berjam-jam sampai tangan kaki keriput terus besoknya ijin nggak masuk sekolah barengan karena pileknya barengan.

Ada yang sekarang jadi perawat, bidan, pegawai asuransi, teller bank, jurnalis, pengangguran, karyawan pemda, sales, model, wirausaha, mahasiswa abadi, dan lain sebagainya. Time forming their character. Teman kecil kamu yang dulu sama sekali ngga bisa speak up, waktu kuliah bisa jadi ketua BEM. Teman kecil kamu yang dulu sama sekali ngga berani hujan-hujanan dan naik pohon, sekarang bisa jadi distributor salah satu brand fashion. Teman kecil kamu yang dulu cuma mau muncul sesekali kalau diajak main, sekarang bisa jadi taruna. Nggak ada yang bisa menduga-duga apapun soal nasib orang. Meski lingkungan punya andil besar, keberuntungan usaha doa dan perjalanan rejeki tiap masing-masing orang sudah terbagi jelas. Perasaan terkejut akan selalu ada di setiap lini kita menemukan hal yang tak terduga itu. Bersyukur pasti kalau kejutan dari mereka berbau positif dan kesibukan mereka sekarang berfaedah betul. Tapi alangkah benar-benar kejutan sekali kalau kabar yang di dapat adalah keterbalikannya :(

Seperti... pasti hampir ada di setiap temen kita yang sebenarnya punya potensi untuk maju dan berhasil tapi harus berhenti ditengah jalan hanya karena harus menikah dini. Kalau memang dengan penuh persiapan untuk menuju ke jenjang pernikahan itu sih soooo no problem ya. Tapi kalau kecelakaan kan ikut sedih juga. Bagaimanapun yang namanya kegagalan menjaga diri dari yang seperti itu pasti udah susah. Susah move on. Semoga ngga akan ada lagi yang seperti ini dimanapun. Mau itu temenku atau bukan temenku, semoga tidak akan ada lagi kasus seperti itu. Amin.

Yang pasti, aku akan menjadi orang pertama yang ikut bangga karena teman-teman (kecil)ku bisa menjadi diri mereka sebenarnya. Aku menjadi ikut bangga karena mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai proses, dan memberikan keberkahan. Semoga aku dan yang lainnya bisa demikian juga. Amin...

Salam hangat, teman kecil.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Times.

"Time is money" - entah siapa yang memulai menulis ini. Sebagaimana kita menghargai waktu, hanya sebanding dengan bagaimana kita menghargai hidup ketika kita sedang kere alias ngga punya duit sama sekali. Kutipan diatas tadi jelas kita hapal diluar kepala. Saking di luar kepalanya sampai hilang mengentah kemana perginya. Karena ada saja ditiap sepersekian detik suatu hari melaju sesuai iramanya, manusia-manusia di bumi ini mengeluh akan waktu yang kurang lantas memenjarakan prasangka baik akan rejeki yang dicukupkan.

Karena Mahasiswa Sehat dari Masyarakat

Mahasiswa bukan hanya kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan rakyat biasa, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Karena kedudukannya, mahasiswa sendiri menjadi memiliki banyak peran dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlepas dari bidang mereka masing-masing.

Saya dalam Temu Komunitas Film Indonesia 2016

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk gabung dalam kegiatan Temu Komunitas Film Indonesia 2016. Kegiatan ini kebetulan diadakan di Baturraden. Wah asyik dong deket lokasi kampus. Hehehe. Jadilah saya ikut bersama lima orang teman saya yang lain, yang tergabung dalam komunitas Godong Gedang Banjarnegara.