Langsung ke konten utama

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J
Andai aku jadi ketua BEM, aku akan memakai tipe kepemimpinan ‘percontohan’. Apa itu? Jadi yang namanya pemimpin pada nantinya sadar ataupun tidak disadari akan jadi panutan orang-orang disekelilingnya kan, dan percontohan disini akan menjadi bungkus untuk lebih bisa membuat diri ini pantas untuk dipanuti. Dengan sistem ini, aku akan ikut berkontribusi penuh untuk program-program yang ada di kepengurusan BEM nantinya. Jadi kalau mungkin banyak pemimpin filosofinya menawarkan kita untuk minum teh dengan hanya mendorong cangkir milik kita saja, dalam percontohan punya filosofi pemimpin itu menawarkan kita minum teh dengan ikut mengangkat cangkir miliknya dan kita sama-sama minum. Terlihat lebih enak, bukan? J

Andai aku jadi ketua BEM, dan harus mengikuti serangkaian perurusan Pemira (Pemilihan Raya) yang dimana saat-saat krusial itu biasa dipakai seorang calon petinggi untuk menunjukkan kelebihannya, aku lebih memilih untuk tetap menjadi diri sendiri saja. Istilahnya rakyat itu tidak butuh topeng kita untuk terlihat lebih baik di depan tapi mengentah di belakang nanti. Buat apa kita berusaha sekeras mungkin memenuhi keinginan mereka untuk menjadi yang sebaik-baiknya pribadi tapi dengan membohongi? Lebih baik jadi diri sendiri apapun kelihatannya tapi tetap berikan sebaik yang kita bisa. Setidaknya kalau benar terpilih nanti orang-orang tetap mengenal aku yang sama ketika dihadapkan euforia Pemira sampai berjalannya kepengurusan. J

Andai aku jadi ketua BEM, mungkin aku akan dihadapkan dengan dua pilihan pembawaan. Sama dengan pembawaan penghadapan Pemira. Aku ingin terlihat strong atau humble. Kembali pada paragraf sebelumnya, dengan lebih memilih menjadi diri sendiri, terlihat humble juga terasa lebih mengenakkan. Bukan berarti dengan humble aku akan tidak terlihat strong. Justru dengan pembawaan kerendah hatian ini akan lebih bisa menunjukkan kalau aku bisa dengan lebih tenang tapi berbobot dan jadi tetap terlihat kuat daripada kuat tapi terkesan ambisius dan jadi tidak rendah hati. J

Andai aku jadi ketua BEM, dengan penyampaian keluhan teman-teman tentang berbagai lini masalah di kampus, aku rasa saat ini perlu membenahi soal goal dan output kita di organisasi ini. Tentang pertanyaan apa yang bisa menjadi indikator keberhasilan kepengurusan para calon di debat terbuka kemarin, aku bisa jadi menjawab seperti ini;”Pada awal kepengurusan, saya akan membuat tujuan dan keluaran yang diharapkan. Spesifiknya, contoh untuk program OSMB saya punya goal yaitu membuat mahasiswa baru yang aktif belajar dan merasa memiliki kampus ini sebagai lahan mereka berkreasi dengan output individu yang dapat diandalkan untuk pengembangkan organisasi serta kritis terhadap isu-isu internal dan eksternal.”. Intinya, untuk membuat teman-teman ‘kerasan’ terhadap kepengurusan kita, kita harus yakin dengan diri kita sendiri untuk mewujudkan goal dan output yang sudah ditentukan. Setelah itu, impact dan feedback pasti akan mengikuti. Terlepas dari baik dan buruknya perlakuan menuju itu, kita tetap bisa terus belajar untuk pembaharuan yang lebih baik.

Sebagai mahasiswa, tugas utama kita yaitu jelas kuliah dan belajar. Walaupun pada masa ini belajar bukan lagi hanya terpaut pada teori akademik yang aku sendiri pun bukan tidak terlalu memperhatikan, tapi lebih pada menyeimbangkan dengan yang di luar itu. Belajar di perguruan tinggi bisa di dapat tidak hanya dengan duduk di kelas dan mendengarkan dosen saja. Dengan mengikuti organisasi contohnya BEM, kita bisa mencangkul ilmu yang tidak didapatkan teman lain di luar kelas dan bahkan mungkin lebih mendalam dari mereka.

Namun permasalahan yang ada adalah, orang organisasi diperkirakan punya kapasitas kelelahan yang lebih tinggi dibanding mahasiswa lain yang menamai dirinya kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang). Parahnya karena alasan tersebut kadang menjadikan yang ikut organisasi jadi sedikit mengenyampingkan tugas-tugas kuliahnya. Lalu kemudian karena alasan lelah itu juga menjadikan kuliah juga sedikit mereka kesampingkan. Sayang.

Andai aku jadi ketua BEM, demi keberlangsungan hidup para organisator sebagai mahasiswa di kampus, akan aku galakkan ‘anti gagal fokus di kelas’. Hahaha. Alasannya begini, kalau di luar kelas aja kita tidak punya bagian waktu istirahat apalagi waktu belajar, apa iya di kelas kita juga mau tidak punya bagian waktu belajar? Logikanya kalau kita tidak punya waktu diluar itu berarti di kelas harus fokus. Setidaknya kalau di kelas bisa fokus, walaupun di luar kelas kita banyak kegiatan, kita tetap bisa punya bekal pencerahan materi, kan? J

At least, kepada siapa saja yang akan menempati posisi krusial ini nanti, pantaskan diri kamu untuk panutan, ya. Karena jadi orang penting itu baik, tapi lebih penting jadi orang baik. J

Amidiana Araminta Aisyah
G1B012019

(was being the best article in writing competition called STUART)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Kapan?

Kapan wisuda?
Banyak yang nanyain, dan akan aku jawab. H-1 wisuda nih!
Bagaimana perasaannya? Tanpa dipungkiri ternyata biasa aja hahaha. Awalnya aku sendiri mengira, semakin mendekati hari H pasti akan semakin tidak sabar untuk pakai toga dan masuk graha. Nyatanya semakin banyak yang diurus, semakin banyak yang difikirkan, Semakin mendekati hari H malah semakin belom pengen lepas dari kampus ;(