Langsung ke konten utama

Tentang kerjaan lagi.


Pekerjaan menjadi hal yang sangat klasik dicari hampir semua sarjana di muka bumi. Ya, hanya hampir semua. Nyatanya memang tidak semua mencari pekerjaan. Ada yang memilih untuk menemukan sendiri pekerjaannya seperti ibu rumah tangga, ada yang memang tidak menuju kesitu, sampai pada ada yang justru menciptakan tempat kerja untuk orang lain. Selepas menjadi sarjana inilah label gelar dan pendidikan terakhir menjadi bawaan kemana-mana. Banyak dari kita yang sangat idealis untuk harus mendapatkan pekerjaan yang linier dengan prodi yang sudah ditempuh selama bertahun-tahun di perguruan tinggi. Tapi tidak sedikit pula yang akhirnya melepaskan idelisme tersebut dan berakhir pada pekerjaan yang bahkan tidak linier sama sekali dengan prodi yang ia ambil. Lalu apakah kita boleh menyebutnya salah? Tidak sama sekali.


Aku mungkin memang tidak terlihat atau memang bukan pejuang pencari kerja sekeras sesarkas segiat orang-orang di luar sana. Tapi pastinya siapa sih yang nggak mau menuju kesitu? Jelaslah usaha. Cari kerja. Cari informasi sana sini, dapat kabar dari saudara, sahabat, teman jauh, saudara jauh, pacar, mantan, pacarnya mantan, mantannya pacar, mantannya pacar yang pacaran lagi, dan lain sebagainya. Sampai kepada menemukan perasaan jenuh, ragu, kecewa, terdesak, dan malas. Lalu tersadar bahwa ada hal yang sering alpha dari teman-teman lulusan baru yaitu alasan tentang kenapa kamu cari kerja, untuk apa kamu kerja, bagaimana memanfaatkan hasil kerja? Padahal alasan untuk menuju itu harus ada di barisan terdepan. Tapi (di penglihatanku) banyak yang sangat simpel menganggap kalau setelah kuliah ya kerja. Seperti suatu kewajiban. Aku pun. Ternyata nggak sesederhana itu.

Sebelum wisuda aku mencoba peruntungan penyaluran hobi untuk bekerja di salah satu radio di kota kelahiranku. Kerja atas dalil 'hobi yang dibayar'. Sampai saat muncul rasa terdesak itu tadi.

Masak orang kesehatan kerja di radio?
Loh lha terus kenapa?
Nggak cari yang linier aja?

Aku berani taruhan, kalau kamu yang ditanyai begitu, rasanya pengen balang sandal juga nggak? Hahaha. Bercanda. Seperti pertanyaan yang diawali kata tanya 'kapan', pertanyaan seperti itu juga harus diperhatikan, khususnya di wilayah sekitar kita hidup. Bukan untuk dilawan, bukan untuk didebat. Tapi dibuktikan. Pengalaman mengatakan, orang lain yang membicarakan kekurangan kita akan seketika diam kalau mereka sudah menemukan pembuktian akan diri kita yang sebenarnya kok. Jadi sabar aja..


Komentar

Pos populer dari blog ini

Times.

"Time is money" - entah siapa yang memulai menulis ini. Sebagaimana kita menghargai waktu, hanya sebanding dengan bagaimana kita menghargai hidup ketika kita sedang kere alias ngga punya duit sama sekali. Kutipan diatas tadi jelas kita hapal diluar kepala. Saking di luar kepalanya sampai hilang mengentah kemana perginya. Karena ada saja ditiap sepersekian detik suatu hari melaju sesuai iramanya, manusia-manusia di bumi ini mengeluh akan waktu yang kurang lantas memenjarakan prasangka baik akan rejeki yang dicukupkan.

Karena Mahasiswa Sehat dari Masyarakat

Mahasiswa bukan hanya kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan rakyat biasa, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Karena kedudukannya, mahasiswa sendiri menjadi memiliki banyak peran dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlepas dari bidang mereka masing-masing.

Saya dalam Temu Komunitas Film Indonesia 2016

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk gabung dalam kegiatan Temu Komunitas Film Indonesia 2016. Kegiatan ini kebetulan diadakan di Baturraden. Wah asyik dong deket lokasi kampus. Hehehe. Jadilah saya ikut bersama lima orang teman saya yang lain, yang tergabung dalam komunitas Godong Gedang Banjarnegara.