Langsung ke konten utama

On social media

Hampir sekitar dua tahun terakhir ini secara tidak langsung aku menjadi pemerhati social media. Bukan karena sok jadi aktif dan eksis di dalamnya. Tapi lebih ke wise up gimana orang-orang sekarang punya efek yang luaaaarr biasa dari penggunaan akun-akun yang mereka punya. Ya, se-luar-biasa itu sampai huruf a-nya harus aku banyakin. Sampai kadang kita lagi ngapain aja bayangannya ah nanti update ini ah, ah nanti update itu ah. Dimana lagi bisa kita temukan orang yang kalau mau makan bukannya baca doa dulu tapi fotoin makanannya dulu? yang kalau pergi ke suatu tempat harus wajib 'ain mengumumkan kepada khalayak lewat update-an locationnya? yang kalau sedih dikit diomong, seneng dikit diomong, punya barang baru dipamerin, dan lain sebagainya.

Sebenarnya nggak ada yang salah dari kecenderungan manusia yang emang suka 'pengen dilihat'. Dari apa yang mereka share di akunnya tersebut mendapat pujian atau komentar yang sebenarnya amat sangat receh aja udah seneng. Kadang ada juga yang bahkan sampai iri karena likes atau followers yang didapat akun sebelah lebih banyak dibanding punya sendiri. Atau bahkan ada yang merasa bukan iri lagi, tapi minder, karena tekanan dalam diam di dunia maya bisa lebih jahat dibanding dengan dunia nyata, nowadays.

Kalau dirasa-rasa, kok aku nggak mandang diri banget ya ngomong begini? Hahaha.

Seperti kebanyakan manusia di era sekarang yang apa-apanya serba memuja-muji teknologi, aku tetaplah termasuk bagian yang andil sebagai pengguna social media yang pernah naik turun moodnya. Yang aku maksud naik turun mood disini adalah, pernah menjadi salah satu orang yang on social media banget sampai-sampai semua aplikasinya aku punya dan aktif semua. Tapi juga pernah yang sama sekali tidak sampai hati untuk muncul di akun manapun.

Pernah begitu santainya membagi semua moment entah itu buruk atau baik, pernah begitu autisnya sampai seharian update sampai berkali-kali, pernah berada di titik aku-pengen-kayak-dia-yang-blalala. Astaghfirullah sih aku...

Dulu, pernah ditegur sama Ibu karena facebook. Jaman alay dan labil gimana sih ya... apa-apa di update. Sampai jaman orang tua main facebook juga, si Ibu tau nih isi profilku. Beberapa dikomentarin, beberapa di-nggak-bolehin. Sampai pada akhirnya, sadar juga akan ke-alay-an, sembuh.

Pernah juga belum lama ini dapet teguran yang nggak kalah luar biasa. Karena disadarkan oleh orang lain (terlebih orang terdekat waktu itu) karena efek social media sudah menjalar ke nadiku, aku vakum beberapa akun. Katakanlah snapchat, ask.fm, path, instagram, twitter, dan bahkan... blog. Awalnya susah. Nggak cuma susah. Tapi susaaaaahh banget. Iya, selebay itu. Padahal kalau mau dipikir-pikir, hidup kita sebelum ada mainan-mainan kayak gitu juga bisa baik-baik aja. Menjalankan hobi juga masih bisa dengan sebaik-baiknya. Masa dengan minimal ngurangin penggunaan aja nggak bisa? Akhirnya aku coba, dan cukup berhasil. Sampai sekarang snapchat bener-bener nggak pernah instal lagi dan log in lagi. Path literally aku deactivated account. Cuma instagram, twitter, dan blog yang masih dipertahankan. Itupun awalnya takut-takut-seneng. Karena sempat dibatasi (baca: dilarang) menyampaikan aspirasi secara liar (for you all that know me so well) lewat tulisan, twitter dan blog bener-bener aku tinggalkan. Padahal, jadi paling favorit. Jadi, sekarang nulis lagi. Kalau instagram, sih, karena sukanya it's like a life catalogue dan suka banget kamera. 

Ada seorang teman yang jadi penyadaranku. Pertama, dia deactivated account Path. Aku kira, karena baru putus dari pacarnya jadi dia depressed. Hahaha. Sampai aku nanya, gimana caranya dan kenapa bisa sampai hati me-non-aktifkan akun. Katanya, banyak mudharatnya. Riya'. Selang sekian bulan setelah itu, beberapa hari yang lalu aku baru ngeh akun instagram dia ilang. Nggak ada gitu dicari juga. Ada salah satu foto di akunku yang aku tag ke dia juga udah nggak ada namanya. Aku nanya lagi untuk konfirmasi kebenaran itu. Disini aku udah yakin bener sih, ni anak pasti punya maksud baik buat mengurangi efek on social media. Ternyata bener. Walaupun alasan lainnya tetep... ngurang-ngurangin paketan. Apresiasi lah.

Katanya udah tobat. Jamannya Path temenan dibatesin, sampai bisa livestream di instagram, setidaknya kita sudah merasakan jaman itu kok. Merasakan jalan-jalan dikit di Path, tempat maco dikit di instagram, giliran duitnya abis di twitter. Hahaha. Perlahan lah perlahan. Tapi tetep di twitter aja mainnya. Lebih enak kalau baca berita, katanya.

Twitter. Sempet menyesal kenapa yang ini ikut-ikutan vakum. Sebenernya nggak vakum-vakum banget juga sih karena tetap dipakai buat kepentingan organisasi. Tapi yang bikin menyesal adalah, dulu blog dibatasi karena pernah diklaim terlalu liar menyampaikan tulisan, terus twitter ikut-ikutan nggak dijalanin. Pantes aja aku ringkihnya setengah mati. Nggak ada lahan buat share pengalaman lewat tulisan ke orang lain karena teknologi..

Padahal, Bapak Ibu adalah orang yang paling mendorong anak-anaknya untuk banyak baca dan banyak nulis. Entah tentang apapun itu. Kiranya bisa menyebarkan kebaikan walau sekalimat, walau satu ayat. Ibu sering bilang,
dakwah kan nggak harus ngomong di depan orang banyak. Berbuat baik juga nggak harus dengan kasih barang atau uang ke orang lain. Lewat nulis juga kamu sedikit banyak bawa manfaat walaupun yang kamu tulis pengalaman kecil dan sepele yang kadang nggak disadarin sama orang lain.
Nggak cuma dari menulis. Kita main social media apapun itu bentuknya juga bisa jadi ladang pahala. Entah itu cuma share foto bareng keluarga dengan caption menggembirakan, kita bisa ikut menularkan kebahagiaan itu untuk orang-orang yang liat. Entah itu share pengalaman sedih, setidaknya kita jadi belajar menyadari sesuatu kalau yang gini ini bikin gerah dan terlalu ingin dikasihani gitu loh jadi nggak perlu sering posting yang begini. Entah itu share tentang achievement yang bikin followers kamu ada yang iri ada yang ikut seneng. Atau... share tentang usaha yang sedang kamu jalanin. Kan sekarang market place paling luas justru di dunia  maya.

Asal nggak merugikan orang lain, berbagi di social media nggak ada salahnya. Toh, bukan tugas kita juga untuk membuat semua orang senang, kan?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J

Generasi langgas dalam Wing Craft Expo

Menurut data BKKBN, kalangan usia produktif yang disini kita kerucutkan pada rentang usia 15-29 tahun jadi populasi terbesar di Indonesia abad ini. Yang kalau mau ditelaah, umur-umur segitu adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 80-90an hingga 2000an awal. Generasi ini sering disebut sebagai generasi millenials, atau di lain sisi disebut juga sebagai generasi langgas. Mereka menjadi jajaran penting di lingkup demografi Indonesia. Kenapa?

Project mangkir setahun

Suatu hari kulihat postingan pemain basket favorit yaitu @raisa_9 yang pakai kaos 'hooping with hijab'. Artinya kira-kira begini; HOOPS= bola memantul, bisa diartikan dengan bola basket. // HOOPING WITH HIJAB= bermain basket dengan tetap memakai hijab. Kaos ini jadi gerakan beliau untuk memasifkan bahwa bermain basket dengan tetap memakai hijab itu baik. Keren. Tidak membatasi ruang gerak dan tetap berprestasi.

Aku jelas tertarik dengan kaos tersebut. Singkat cerita belilah online ke orangnya langsung. Terus aku pakai di salah satu kesempatan waktu mendampingi tim putra FIKes Unsoed di suatu turnamen di kampus. Waktu foto pakai kaos ini aku post di lini masa, salah satu teman langsung dm (direct message) via instagram. Doi bilang, "Kenapa kita ngga bikin project olahraga tetap mengenakan jilbab itu keren!!!" (iya itu pakai tanda seru banyak emang bawaan orangnya begitu)