Langsung ke konten utama

Last of this Ramadhan

Kalimat klise mulai bermunculan di berbagai benak ketika hari di bulan ini mulai berkurang jatahnya. Seperti, "wah nggak kerasa ya cepet banget udah mau lebaran aja" atau "rasanya baru kemarin mulai puasa" atau yang lain lagi "lusa udah lebaran aja. Padahal belom belanja macem-macem". Dan masih banyak lagi, baik yang berbau batiniah maupun lahiriyah.
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan dengan bulan yang selalu penuh warna. Selain penuh berkah, bulan Ramadhan--khususnya di Indonesia--selalu punya segudang warna-warninya. Entah itu bersifat pemenuhan ibadah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sampai yang bertajuk duniawi dengan pemenuhan kebutuhan lahiriyah selama sebulan penuh--terutama makanan.

Tahun ini jadi Ramadhan yang begitu berbeda buatku. Bersyukur bulan puasa penuh di kampung sendiri, sudah berkantor, dan dipertemukan dengan orang-orang baru. Suasana baru, lingkungan baru, dan teman-teman baru. Karena itu sih, pengennya ada resolusi baru untuk itu. Kalau tahun-tahun kemarin masih cenderung selalu terlalu banyak jadwal buber (buka bersama), jarang kajian, seolah cuma dapet lapernya doang karena ngejar target tugas akhir atau tugas-tugas lain selama sekolah-kuliah, belum lagi pas ketepatan banyak kegiatan non-akademik yang harus di urus. Ramadhan berasa lewat doang.

Tapi nggak tau kenapa semakin kesini aku semakin realized kalau diantara kita sebenarnya banyak yang ngerasa sama kayak yang aku sebutin tadi. Ngerasa dengan adanya bulan Ramadhan ini ya yang penting kita menjalani perintah-Nya untuk puasa. Meskipun tau dan amat sangat paham anjuran-anjuran lain untuk menyempurnakan puasa kita kayak tadarus dibanyakin, sedekahnya digetolin, jaga emosi, tahan hawa nafsu, dll, tapi rerata dari kita masih sekedarnya untuk itu semua. Paling pol di sepuluh hari pertama getol ibadah. Sisanya?

Sisanya begini; Sibuk urus buber sama komunitas ini itu, sibuk mikir besok mau sahur sama apa, sibuk ngitung lebaran masih berapa hari lagi, sibuk nungguin THR kapan keluar, sibuk mikir belanja lebaran, sibuk mikir tiket mudik, sampai dengan sibuk cari-cari bank mana yang masih bisa ditukerin uang cetakan baru buat dibagiin ke ponakan-ponakan sebagai salam tempel lebaran.

See? Itu semua nyaris duniawi. Tapi sayangnya itu udah jadi tradisi. Meski ada baik dan buruknya, untung dan ruginya, berfaedah dan mudharatnya, tetep aja disinilah pointku kenapa kegembiraan menyambut hari kemenangan nanti yang berarti bulan puasa berakhir menjadi kesedihan yang terpojokkan. Kenapa kesedihan yang terpojokkan?

Meski aku pribadi yang masih penuh kurangnya daripada lebihnya, belum segetol yang diinginkan untuk mengais ladang pahala dan rajin mempertahankan mood untuk memenuhi perintah-Nya, entah kenapa sudah mulai risih dan gerah dengan hal-hal macam itu. Hal-hal dimana di sekitar kita membuat seolah-olah Ramadhan hanyalah jembatan menuju lebaran saja. Walaupun tidak berarti membuat Ramadhan tidak punya euforia yang seharusnya.

Baiknya, bulan puasa bisa jadi ajang silaturahmi para squad yang cuma bisa kumpul lengkap kalau ada undangan buber doang. Masjid jadi lebih ramenya luar biasa. Para penjaja makanan (apapun!) larisnya nggak ketulungan. Semua toko laris. Anak-anak bisa main petasan--eh ini baik nggak yah?

Dan masih banyak lagi. Sungguh memang jadi tradisi yang selalu dirindukan.

Tapi, tunggu dulu... kenapa banyak hal di atas jadi bikin sedih adalah karena,
ketika orang-orang buka bersama, boleh ditengok, berapa % dari forum yang berkumpul itu bergegas menuju mushola untuk sholat maghrib? Bahkan tidak jarang sampai adzan isya saja ada juga yang masih leha-leha ketawa-ketiwi beranjak dari kursinya pun enggak. Astaghfirullah.. bukannya suudzon, iyasih mungkin aja mereka lagi halangan, yang cowok juga ikut pakai pembalut gitu kayaknya, jadi nggak sholat. Kedua, kadang kalau ada buber-buber gitu malah jadi pemborosan. Beda cerita kalau buber acara kantor yang dicover anggaran dari bos. Nggak ada buber pun di bulan puasa kita cenderung boros. Biasa sehari-hari makan seadanya, pas Ramadhan berasa semua harus ada. Ngaku nggak! Hehehe :")

Sekitar setengah jalan bulan, kegiatan masjid masih bisa dipantau keaktifannya. Kenthongan bangunin orang sahur, kuliah subuh, jamaah 5 waktu, TPQ anak-anak, jaburan (semacam sumbangan takjil), sholat tarawih, tadarus malam, dst. Semakin hari menuju pertengahan ke belakang pemandangan yang paling bisa dilihat adalah, shaf sholat jadi kemajuan (baca: berkurang barisannya jadi menjorok ke depan a.k.a maju), jamaah kuliah subuh juga berkurang, tadarusnya jarang-jarang orang. Astaghfirullah.. ini sih jadi pengingat diri sendiri dan yang lain juga. Kita masih terlalu memprioritaskan kebutuhan pribadi ketimbang memikirkan jangka panjang tabungan akhirat, ya. Seringnya kalau kecapekan kerja, ikut sholat tarawih baru sekian raka'at udah dengut-dengut nguantuk luar biasa. Ketambahan sebelum itu makan buka puasanya kekenyangan karena nggak kontrol keinginan. Apa lagi? Setelah itu ketiduran, lupa tadarus, target khatam Al-Qur'an semakin hari semakin mundur.

Selepas waktu-waktu pertengahan itu, ternyata ada yang bikin aku lebih senang sekaligus sedih. 

Menjelang sepuluh hari terakhir katanya adalah waktu mujarab untuk sebaik-baiknya memanfaatkan sisa Ramadhan. Kesempatan di saat-saat terakhir ini sering dimanfaatkan untuk iktikaf a.k.a berdiam diri di masjid. Dulu pertama kali diajak Bapak iktikaf waktu aku masih kelas 1 SMP. Inget banget perjuangan dipaksa bangun jam 1 malem, ambil air wudhu, jalan kaki ditengah gelap malam yang sepi nyenyet horor gimana gitu berdua doang ke masjid besar di dekat kompleks rumahku. Waktu itu Bapak ngendika, "nanti masuk tahiyatul masjid dulu. Terus sholat tahajud sekuatnya saja. Abis itu kamu bisa berdoa apa saja... minta semuanya yang kamu pengen sama Allah. Minta disembuhkan sakitnya," lalu aku senyum mengangguk mengiyakan. Meski setelah itu aku malah ketiduran di atas sajadah karena saking lama nggak tau harus berdoa apa lagi dan nunggu Bapak yang kayaknya beranjak aja susah saking banyak yang mesti didoakan.

Bedanya sekarang udah gede dan semakin ngerti, semakin banyak yang perlu didoakan. Meski lagi-lagi nggak selalu sempat bangun untuk berangkat ke masjid quality time sama Yang Punya Keputusan. Aku senang.

Sedihnya... waktu-waktu inilah orang-orang mulai berkelebatan untuk mempersiapkan lebarannya. Baju baru, parcel, sandal baru, mukena baru, sarung koko baru, toko emas rame, indomaret rame, pengusaha kue panen, rebutan tiket mudik, pom bensin kendaraan mengular, bank penuh lautan manusia, sampai tindak kriminal juga nggak mau kalah eksis. Heran.

Dulu jaman masih kecil sih ya cuek-cuek aja beneran soal fenomena yang selalu ada di tiap menjelang lebaran. Tapi begitu segede ini kok jadi dikit-dikit mikir, kenapa sih ya harus begini begitu? Apa tradisi yang turun temurun gini yang perlu beneran ditelaah? Sayangnya kita terlalu menikmatinya. Kalau tidak mengikuti arus, masih punya stigma negatif. Ah nanti nggak sama kayak itu kayak ini. Ah masa lebaran nggak beli baju baru sih. Ah masa lebaran nggak pamer THR banyak. daaann masih banyak banget lagi.

Lebih kagetnya lagi, seorang teman pernah cerita kalau sehabis lebaran biasanya kantor Pegadaian rame. Kenapa? Mereka yang meramaikan Pegadaian akan menggadaikan barang-barangnya yang sudah selesai dipamerkan kepada sanak saudara di hari lebaran.

Sebenernya apa yang kita punya di tradisi lebaran Indonesia ini baiknya nggak ketulungan. Dari silaturahmi sampai maaf-memaafkan. Baiiik banget walaupun, dari doa yang sering kita sampaikan ketika lebaran yaitu "Taqoballallahu minna wa minkum, minal aidzin wal faidzin" itu punya arti:
Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian, dari orang-orang yang kembali dan beruntung.
Tapi selama ini kita seolah menganggap ungkapan doa yang disampaikan itu punya arti "Maaf lahir batin". Padahal bukan.

Aku sangat senang karena bulan ini. Tapi masih sedih melihat kanan kiri. Setiap merasakan sendiri, instropeksi diri, atau ditampakkan dari orang lain, suka bilang dalam hati... "Bisa nggak sih orang-orang memaknai lebaran besok bukan menjadi ajang pamer-pameran dan bagus-bagusan kepunyaan barang duniawi? Kenapa sih kalian nggak sedih Ramadhan bakal selesai? Kenapa lebaran kita jadi seolah terkesan membebaskan dari sesuatu hal yang menekan? Iyasih hari kemenangan, tapi memaknai kemenangan dengan berlebihan bukannya malah...

Astaghfirullah.

Harapannya sih masing-masing dari kita bisa menyadari, meskipun sedikit, bagaimana baiknya memaknai berakhirnya Ramadhan. Aku pun sama sekali masih belum bisa sepenuhnya tidak ikut-ikutan tradisi. Tapi, semoga beneran jadi instropeksi. Karena sungguh... sedihnya bikin gemes.

Ramadhan in this year already gone. Banyak hal yang bisa didiskusikan disini. Lebih dari yang aku ceritakan di atas. Bisa tentang keluarga, mudiknya, esensi ramadhan dan menyambut lebaran, dan lain sebagainya. Renungkanlah jika kau mau, bagikan jika perlu.

Happy Eid Mubarak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J