Langsung ke konten utama

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"

Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.

Sebenernya program apaan sih?

Pendataan Keluarga Sehat. Dimana ini program dari pusat yang kami, jajaran terdekat Unit Pelaksana Teknis untuk pusat kesehatan masyarakat, ditugaskan untuk mendata seluruh penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas. Catet, ya. SELURUH Penduduk. Jadi pendataannya benar-benar universal coverage. Nggak ada sampling. Nggak boleh ada yang kelewat. Udah macem yang biasa megang stetoskop berubah jadi petugas sensus gitu deh.

Supervisor dari program ini adalah petugas Promosi Kesehatan di Puskesmas. Dengan member para surveyor yang berjumlah sepuluh orang, dan semuanya tenaga kesehatan. Tiga dari sepuluh surveyorku adalah orang dalam Puskesmas. Sisanya merekrut dari luar. Awalnya kebayang macem-macem nih di kepala. Antara aduh gimana ya surveyorku ini asyik-asyik nggak ya atau mereka sanggup nggak ya mereka jenuh nggak ya ntar sampai worth it nggak yah honor mereka nanti...

Pada akhirnya yaudahlah ya ngapain mencemaskan hal yang belum terjadi. Ternyata setelah semua usaha dijalankan dan menyerahkan segala macam ketentuan pada Yang Maha Segalanya, bisa dibilang masih baik-baik saja. Dan semoga akan selalu baik-baik saja, dikuatkan dari segala beban, ditabahkan dari segala macam ujian.

Ada banyak hal yang aku pelajari dari pengalaman pendataan. Tapi bukan pengalamanku sendiri. Yaitu hasil curhat tiap pagi dari para surveyorku. Tiap pagi mereka absen, setor hasil pendataan hari kemarinnya, cerita laporan hambatan pelaksanaan, lalu ambil jatah blangko untuk pendataan hari tersebut. Yang paling menarik dari sesi pagi kami adalah... cerita laporan hambatan pelaksanaan.

Surveyorku terdiri dari berbagai peran--selain tenaga kesehatan tentunya--di kehidupannya masing-masing. Ada yang masih single, ada yang sudah triple. Ada yang pengantin baru, ada yang masih banter pacaran. Ada yang masih mikirin ini gaji pendataan buat beli baju lebaran, ada yang mikir uang hasil pendataan buat tambahan pendapatan keluarganya. Aku menyadari, bagi sebagian orang mungkin honor ini nggak seberapa. Tapi untuk yang memang butuh, iming-iming sekian rupiah untuk tiap rumah terdata adalah anugerah.

Suatu hari salah satu surveyor mengeluh di grup WhatsApp, karena jatah blangko dia banyak yang kosong. Kata aku, "udah gapapa mba besok bisa dilanjut lagi, tapi jatah buat besok baru lagi". Kata dia, "iya tapi sayang, lumayan mba bisa buat beli susu anak.."

Seperti ada yang menekan di dalam dada, begitu baca itu. Antara terharu dan ingin minta maaf.

Di hari lain surveyorku ada yang ditolak responden karena dikira mau minta sumbangan. Setelah didatangi sampai tiga kali, tuan rumah mau membukakan pintu. Bukannya surveyor yang banyak nanya, tapi malah sebaliknya. Responden banyak bertanya ini program untuk apa, mas itu siapa, sampai-sampai blangko dicek tulisannya satu persatu. Di akhir pertanyaan, terlebih setelah surveyor menunjukan surat tugas dari Puskesmas, si responden justru yang minta maaf karena sudah suudzon dikira sales atau orang minta sumbangan.

Karena pendataan yang mengharuskan menyangkut seluruh warga, tidak jarang mereka menemui beeeerrbagai ragam latar belakang kondisi keluarga. Ada keluarga yang menolak di data tadi karena satu dan lain hal--dan kadang tidak masuk akal--, ada yang satu rumah isinya sampai belasan orang, tapi ironisnya ada juga yang satu rumah hanya ada nenek-nenek yang tinggal sebatang kara. Yang dimana membuat tiap pagi surveyorku mendongeng pengalaman mereka terjun ke lapangan, aku yang dibuat trenyuh dan bersyukur tidak kepalang.

Merasa kecil bahkan amat sangat kecil ketika rasa ingin mengeluh karena stress menghadai pekerjaan lalu disentil dengan dongeng pagi dari mereka yang hampir setiap harinya berwarna seperti itu. Harusnya kamu jauh lebih bersyukur, Ra. Berada dalam posisi sekarang juga dimana keluarga masih sangat bisa dibilang baik-baik saja dengan segala hal yang tak sanggup dijelaskan dengan kata-kata. Masalahmu hanya ujian kenaikan kelas dan Allah selalu punya janji baik kalau kamu beriman. Percaya.

Terima kasih selalu berhasil membuatku percaya, bekerja langsung dari masyarakat adalah hal terbaik dalam belajar kecakapan hidup. Walau jelas, karena setiap dari kita adalah kemungkinan jadi tidak ada yang tidak mungkin bila naik turun kualitas diri akan selalu terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J