Langsung ke konten utama

Uang, Kebijakan, dan The unpredictable human error. (final)


Pengajuan keringanan UKT ternyata prosesnya tidak sebentar. Ternyata lagi bukan hanya lama. Tapi lama banget. Entah memang perjalanan manajemennya yang lama atau hanya di kampus ini aja yang apa-apanya lama, aku nggak tau.


Sejak surat pengajuan keringanan atas namaku dikirim ke rektorat tertanggal 5 September, aku pasang kuda-kuda buat mengawasi secara pribadi prosesnya. Iya, lebay, tau. Hahaha. Aslinya ya nggak gitu-gitu amat. Sekitar hampir tiap minggu pasca itu aku ke pusat administrasi pusat menanyakan informasi kelanjutan pengajuan keringanan UKT tersebut. Minggu pertama, belum ada kabar apapun. Minggu kedua, suratku nggak ketauan keberadaannya. Minggu ketiga, ketauan suratnya baru sampai disposisi ke rektor. Minggu keempat, di cek namaku di SK nggak ada. Nangis.

Iya, serius nangis. Lebay lagi. Kebanyakan pakai hati emang.

Aku minta tolong orang dekanat fakultasku untuk bantu apa yang dibisa. Aku ceritain semuanya apa yang terjadi di pusat administrasi saat aku bertandang kesana menanyakan informasi itu. Aku disuruh sabar lagi. Well, it will be klise word when you can't sit still look pretty.

Sampai aku menghabiskan waktuku di kos, pindahan ke rumah, sedikit liburan dan cari sambilan kerja, tibalah waktu itu. Kemarin malam, waktu lagi siaran tiba-tiba ada notifikasi line masuk. Ada info soal penyesuaian UKT untuk angkatan 2012 udah keluar SK-nya. Sontak buyar seketika kerjaan pada malam hari itu. Ceritanya ada suatu web kampus yang gunanya untuk ngecek tagihan biaya perkuliahan dan detik itu langsung aku cek. Kalau teman-teman fakultas lain udah bisa berhasil turun, dimana tanggal pengajuan kita sama, harusnya aku juga udah bisa dong. Tapi ternyata nihil. Tagihan bayaranku masih full nominal UKT seharusnya. Nangis.

Eh, ini nggak serius. Jelek banget di denger on air masa nangis.

Besoknya, aku ijin nggak masuk kerja untuk ngegas langsung ke kampus. Ditemenin salah satu sahabatku, kita bertandang ke kompleks rektorat. Kalau di video sih bisa pakai efek-efek sok dramatis gitu pas masuk gedungnya. Hahaha.

Menurut info yang aku dapet, step pertama aku harus ketemu.. sebut saja bapak A. Katanya, beliau yang biasa mengurusi UKT sampai beasiswa Bidik Misi di kampus. Awalnya karena rasanya nggak karuan pengen nangis pengen marah, beruntungnya aku ngajak temen, jadinya ada yang menenangkan. Ah, terimakasih Lilis! Jadilah obrolan aku dengan bapak A berjalan selo dan lembut. Tipikal kayak Bapakku. Penjelasannya pun runtut. Bahwa ketidak-adaan namaku di dalam SK tersebut bisa coba di cek ke ibu-ibu di bagian sarpras akademik. Padahal, ibu-ibu yang bapak A sebut itu adalah yang seriiing aku temuin selama bulan September kemarin aku todong nanyain masalah yang sama. Demi kemaslahatan umat dan hatiku, akhirnya aku ikuti petunjuk bapaknya untuk menemui ibu itu lagi dan menanyakan kejelasan masalah ini lagi.

Ibu-ibu ini senyum liat aku (lagi). Menanyakan hal yang sama, dengan hasil yang sama. Namaku nggak ada di SK. Padahal aku cerita lagi, "surat saya sudah sejak awal September loh bu, apa masih saja belum sampai bagian akademik?". Setelah ibunya tau dari ceritaku kalau surat itu sempat terdeteksi baru sampai ruang rektor, aku diminta coba cek langsung ke lantai 3 rektorat. Untuk kemudian diikuti kemana jalannya surat itu didisposisikan. Awalnya aku menggerutu dalam hati, lah ini kita ngelacak sendiri nih? Tapi ya lagi-lagi demi kemaslahatan umat dan diriku sendiri, aku laksanakan dengan sepenuh hati.

Kita naik ke lantai 3. Ketemu sama ibu-ibu B. Aku cerita ulang apa yang jadi masalah, beliau langsung cek sebuah buku gede. Buku surat masuk. Surat dari fakultasku dan atas namaku ada. Tertanggal 22 September sudah didisposisilan ke bagian umum keuangan rektorat. Ini ada di lantai 2. Selanjutnya kita ke lantai 2 dan ke ruangan yang dimaksud. Syukur disini ketemunya adek-adek anak SMK yang semacam lagi praktik kerja di kantor-kantor gitu loh. Aku lacak nomor suratnya, dan ketemu. tertanggal 27 September surat itu didisposisikan ke bagian keuangan pusat administrasi. Aku iseng fotoin buku surat masuknya buat bukti. Dan well, kita nyebrang ke tujuan selanjutnya.

Di keuangan inilah jawabannya muncul. Setelah masuk ruangan dan ketemu mbak-mbak buat ngecek nomor suratnya dan ketemu, kita disuruh nemuin ibu-ibu C. Beliau kepala bironya gitu kali ya. Aku ceritakan hal yang sama, terus ibunya ngecek di komputer--nggak tau di SK atau apa--kemudian namaku ditemukan. Beliau ngendika, "loh ada kok mba namamu. Memang nggak adanya dimana?" aku jawab lagi,"di SK bu."

Ibu-Ibu C ini sempat menawarkan aku untuk menuju ke bagian akademik lagi. Alamak... kayak naik odong-odong yak. Muter ketemunya itu lagi. Setelah aku bilang aku udah menanyakan hal tersebut ke bagian yang sama berkali-kali, akhirnya ibu-ibu C konfirmasi langsung via telpon ke bagian tersebut. Sependengaran aku, daftar nama pengajuan keringanan itu sudah dikirim via email. Namun hal manusiawi terjadi. Kurang teliti. De facto, ada beberapa nama lain yang belum tercantumkan di SK selain namaku. Bahkan parahnya, satu fakultasku nggak ada yang masuk.

At least, nantinya akan ada SK susulan. Jadi kami yang mengajukan keringanan tetap akan dapat keringanan. Gila masa udah nggak ngapa-ngapain di kampus, nggak pakai apapun dikampus masih harus bayar penuh. Ya gitusih. Padahal sih pendadaran juga udah..

Sempat ibu-ibu C kaget, "loh kamu udah pendadaran? Bisa to belum bayar?" padahal ya awalnya aku juga ragu nggak bisa pendadaran dulu kalau belum bayaran. Ternyata bisa-bisa aja. Pakai ngibul dikit berkas KRSnya pakai yang semester sebelumnya. Hehehe.. tinggal yudisium kemudian daftar wisudanya aja yang memang perlu ada bukti lunas tagihan di kampus.

The value is, hari itu aku jadi belajar. Kita nggak boleh menilai atau menuduh sesuatu sebelum tau bagaimana faktanya. Ternyata bukan karena permohonan kita dipersulit, tapi hanya karena the unpredictable human error. Nggak ada salahnya sama yang namanya klarifikasi. Kalau kamu menganggap menelusup rektorat sampai muter-muter kayak aku tadi itu nggak baik atau dinilai terlalu ngoyo, aku berani bilang itu salah. Lebih salah kalau kamu diam. Hanya merecok di belakang, nggak tau apa yang terjadi di dalam, terlebih nggak mau usaha cari tau. Menyedihkannya lagi, ada juga yang nggak mau seperti ini dengan alasan nggak mau ribet. Nerimo segala yang ada. Ya baik sih, mensyukuri segala yang ada. Tapi kalau nggak ada equity-nya ya masa mau gitu-gitu aja, sih.

Rindu sebenernya jadi mahasiswa. Bukan rindu belajarnya, tapi rindu yang begini-begini. Hahaha gendeng!

Cerita ini memang nyata dan apa adanya, tidak berniat untuk mengkritisi, hanya menjadikan pelajaran sehari-hari. Terima kasih dan semangat pagi!

Komentar

  1. Asik bener naek odong-odong ya Mbak. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooiyaaa Gus. Kampus kita udah kayak pasar malem nantinya. Banyak yang ngajakin muter-muter sih wkwkw

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J