Langsung ke konten utama

Jogsint. (Jogja's Internship Journal) #1

Jogja masih terlalu bersahabat. Setidaknya setelah hari ke-8 magang ini, walaupun waktu terasa cepat berlari, atmosfer yang membuat panjang umur tetap tercium.
Ngomong-ngomong soal panjang umur, setelah baca profil kesehatan DIY yang terbaru ternyata provinsi ini menduduki 3 besar daerah yang punya angka harapan hidup tinggi loh. Tapi di lain halaman, angka kesadaran perilaku makan buah dan sayur disini masih rendah. Atas hal mengapa angka harapan hidup DIY bisa tinggi saya tidak bisa menspekulasi sendiri tapi saya rasa tidak melulu soal kesehatan yang dijadikan alasan. Tapi juga kebahagiaan.

Sejauh ini kantor cukup membuat saya belajar banyak hal. Dari yang teoritis hingga yang berbau magis. Perasaan, misalnya. Pada 4 hari pertama kami (rombongan Unsoed dan tambahan dari Stikes Surya Global, Jogja) ditugaskan untuk mempelajari Pergub No. 47 Tahun 2008 tentang Struktur, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 'Halah' banget to? Iyalah, jelas. Rasanya kok lah-kan-disini-kita-mau-latihan-kerja-kok-ya-masih-disuruh-belajar-lagi-banget. Walaupun setelah ditelusuri dari tujuan proposal magang kami ya memang inilah tahap awalnya. Gimana mau bisa terjun kerja kalau tugas pokoknya aja nggak ngerti? Awalnya membosankan. Sangat. Saat ujian saja kita biasa belajar hanya sehari semalam. Ini 4 hari full. Bahkan 5 hari karena Bu Aminah, Kepala Subbag. Umum yang mengatur penempatan magang kami, kebetulan sibuknya minta ampun di minggu pertama kami magang. Akhirnya karena saya memang tidak bisa diam dan gampang bosan, jadilah berkelana keliling kantor untuk sedikit 'mendahului' arahan untuk cari info macam-macam soal kantor untuk keperluan laporan akhir magang. Berdasarkan hasil belajar Pergub dan keliling kantor, saya dan teman-teman mendapat pencerahan mengenai di bagian kantor mana kami harus ditempatkan sesuai peminatan yang diambil. Saya sendiri yang kebetulan (re:sedikit terpaksa dan mendamparkan diri) mengambil peminatan Biostatistik merasa pas untuk masuk ke Bidang Pelayanan Kesehatan di Seksi Pelayanan Informasi Kesehatan. Alhamdulillah, walaupun berawal dengan sedikit was-was karena takut Bu Aminah tidak menempatkan sesuai bidang (karena kabarnya ada anak magang Undip ditempatkan tidak sesuai peminatan. Kan syedih), kami ber-4 ditempatkan sangat pas dengan keinginan! Saya di Seksi Pelayanan Informasi Kesehatan, Lenny di Seksi Kesehatan Dasar, Nevri di Seksi Penyehatan Lingkungan, dan Linggih di Seksi Gizi.

Kurang lebih tiga hari berjalan setelah penempatan, semua hal terasa lebih cepat. Terlebih kami sudah berpisah ruangan. Berpisah kesibukan pula. Senang rasanya ketika disela-sela kami melakukan kegiatan di masing-masing meja kerja grup WhatsApp ramai saling share kegiatan masing-masing. Lenny dengan keberuntungannya diikutkan pelatihan kader Puskesmas yang ujungnya dapat snack dan makan siang gratis melulu. Linggih juga ngga beda jauh tiap selesai bantuin kerjaan pasti dikasih makanan. Maklum ya kali seksi gizi selalu penuh zat gizi di ruangannya. Nevri beda lagi. Orang-orang kesehatan lingkungan selalu terkenal dengan 'orang lapangan' dan jadilah dia diikutkan terjun ke daerah Gunung Kidul untuk pengumpulan data apalah-itu-saya-tidak-begitu-paham. Setelah jalan-jalan ke Gunung Kidul pun diajak makan gratis. Saya?
Saya sudah belajar aplikasi baru untuk checking bandwith internet di seluruh komputer yang ada di kantor. Sudah keliling bertamu ke tiap ruangan di kantor untuk mengubah IP Address untuk jaringan LAN di dinas. Karenanya saya juga disuguhi makanan gratis. Selain itu juga diajari input data dokter se-Jogja raya di sebuah sistem informasi yang menyudut pada tenaga kesehatan yang disebut SINTESA (Sistem Informasi Tenaga Kesehatan) Provinsi DIY. Hanya diajari? Big No. Selanjutnya saya benar-benar lembur input data nama-nama dokter dan identitas lainnya yang jumlahnya sangat tidak sedikit. Hari ini kembali mendalami peran sebagai server belajar tentang proses aplikasi untuk checking jaringan LAN se-kantor dan besar bandwithnya. Jika beginilah memang keterdamparan saya mengambil peminatan Biostatistik, siap-siap saja selesai magang kacamata saya bertambah tebal. Hahaha. But at least, saya sangat sangat menikmatinya. Terlebih kebetulan di Seksi Pelayanan Informasi Kesehatan (atau lebih enak disingkat jadi seksi yaninfokes) saya ditemani rekan dari S2 Kesehatan Masyarakat UGM. Mba Nurul dan Pak Nur, begitu saya biasa akrab memanggil mereka, adalah mahasiswa magang dari S2 di jurusan yang sama dengan saya di mantan institusi impian, yang ternyata teman sekelas kuliah dengan tante saya sendiri disitu. Hahaha how short the world is!

Magang bagi saya bukan hanya belajar kerja. Namun benar-benar belajar untuk terbayangkan bagaimana menjadi wanita karir. Kalau suatu kali saya bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan, sering terlintas pikiran kalau besok saya sudah berkeluarga dan bekerja seperti sekarang ini bagaimana bisa mengurusi anak dan suami? Siapa lagi yang akan menyiapkan sarapan mereka kalau bukan saya? Belum kalau ada 'urusan kecil' di tiap pagi yang kadang biasa diciptakan anak-anak karena dulu saya juga begitu dengan kakak dan adik saya. Selain itu ketika pulang kantor hawanya hawa lelah. Sore, lapar, ngantuk, tapi cucian numpuk, dan kamar juga perlu dibereskan. Belum lagi kalau membawa 'oleh-oleh' sisa kerjaan yang belum kelar. Disini saya mengerti, seorang Ibu yang bekerja itu luar biasa. Semoga Ibu saya dan saya kelak dijabani niat ibadah bekerjanya, aamin.

Tetap semangat! Jaga hati biar nggak baper :)

Wed, August 12, 2015.
Ruang Seksi Yaninfokes, Dinas Kesehatan Provinsi DIY, Jogja, INA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J

Generasi langgas dalam Wing Craft Expo

Menurut data BKKBN, kalangan usia produktif yang disini kita kerucutkan pada rentang usia 15-29 tahun jadi populasi terbesar di Indonesia abad ini. Yang kalau mau ditelaah, umur-umur segitu adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 80-90an hingga 2000an awal. Generasi ini sering disebut sebagai generasi millenials, atau di lain sisi disebut juga sebagai generasi langgas. Mereka menjadi jajaran penting di lingkup demografi Indonesia. Kenapa?

Project mangkir setahun

Suatu hari kulihat postingan pemain basket favorit yaitu @raisa_9 yang pakai kaos 'hooping with hijab'. Artinya kira-kira begini; HOOPS= bola memantul, bisa diartikan dengan bola basket. // HOOPING WITH HIJAB= bermain basket dengan tetap memakai hijab. Kaos ini jadi gerakan beliau untuk memasifkan bahwa bermain basket dengan tetap memakai hijab itu baik. Keren. Tidak membatasi ruang gerak dan tetap berprestasi.

Aku jelas tertarik dengan kaos tersebut. Singkat cerita belilah online ke orangnya langsung. Terus aku pakai di salah satu kesempatan waktu mendampingi tim putra FIKes Unsoed di suatu turnamen di kampus. Waktu foto pakai kaos ini aku post di lini masa, salah satu teman langsung dm (direct message) via instagram. Doi bilang, "Kenapa kita ngga bikin project olahraga tetap mengenakan jilbab itu keren!!!" (iya itu pakai tanda seru banyak emang bawaan orangnya begitu)