Langsung ke konten utama

Jogsint. (Jogja's internship Journal) #Prolog

Assalammu'alaikum, Agustus. Selamat datang, Jogja.
Terhitung mulai seminggu terakhir ini saya menetap di mantan-kota-impian-yang-masih-jadi-candu-dan-rindu-yang-menggebu. Yap. Meski Jogja pernah punya sticky story untuk saya, tapi tetap saja ia tak bisa lepas dari daftar destinasi paling ingin sering disambangi. Sekalipun itu hanya berkeliling jalanan atau duduk di angkringan pinggir jalan yang sebenarnya di Purwokerto pun sama saja demikian. Lalu kali ini saya datang bukan untuk mengenang apalagi mengulang cerita yang sama.

Internship will be held on tomorrow and I'm very exited to start it. So, how's you prepare it all?

Dari cerita panjang melelahkan soal penentuan lokasi magang dan sedikit drama soal penentuan tempat tinggal selama sebulan. Salah satu teman pernah menyeletuk kalau, kenapa tidak cari suasana baru untuk ini? Tidak Jogja melulu. Awalnya saya bingung apa maksudnya. Apa yang salah dari Jogja untuk saya? Namun saya paham setelahnya, tidak ada yang salah dari Daerah Istimewa ini, namun cerita yang pernah ada itulah yang membekas di pikiran teman saya yang mengatakan hal tadi. Haha, ingin ngakak rasanya. Jogja akan tetap menjadi 'dirinya sendiri' dengan apapun kenangan yang ada di dalamnya. Jadi, saya kira pilihan ini tidak salah sama sekali. Jarak kantor Dinas Kesehatan Provinsi DIY yang (akhirnya) menjadi final destination pencarian lokasi magang sedikit lumayan jauh dari kota. In spite of disini kemana-mana gampang. Kebetulan rumah kakak justru lebih dekat. Kalau berpikiran cepat mudah dan tanpa pikir panjang, sih, saya langsung mengiyakan untuk tinggal disitu selama sebulan penuh. Tapi ndilalah keadaannya serba 'ndilalah'.

Saya latihan kerja disini bersama tiga teman lain yang semuanya berjenis kelamin perempuan. Karena didasari tinggal jauh dari perantauan, teman-teman mengusulkan untuk kami tinggal berbarengan, entah itu dalam satu kos ataupun rumah kontrakan. Awalnya, saya menawarkan rumah kakak untuk ditempati karena kebetulan kakak saya yang baru punya bayi kecil tinggal di rumah mertuanya. Tapi singkat cerita penawaran tersebut tercoret karena satu dan lain hal. Selanjutnya karena saya yang (kebetulan lagi) paling sering bolak-balik Jogja ketimbang ketiga teman saya itu, jadi saya dimintai tolong untuk hunting kos. Mungkin karena di sekitar kantor tidak begitu dekat dengan kampus atau semacamnya, jadi kos pun langka. Ada pun itu tidak yang langsung bisa menampung kami berempat. Sahabat saya yang kuliah di UGM menawarkan kosnya untuk saya tempati selama Agustus karena (kebetulan lagi) dia akan terbang ke Singapore untuk program Student Exchange selama kurang lebih 6 bulan mulai akhir Juli 2015. Pada akhirnya saya menerima tawaran itu dan teman-teman magang lainnya mengikuti 'rekomendasi' yang sama untuk 'menumpang' di kos teman yang kuliah di Jogja. Walaupun akhirnya kami terpisah jarak dan waktu..

Sebelum ngantor, saya dapat sedikit banyak masukan. Entah itu dari keluarga, Ninda--sahabat yang saya tempati kosnya, Yonatan--teman baik saat SMP yang sangat kebetulan juga magang di tempat yang sama, dan kerabat lain yang nggak bisa saya sebutkan satu-persatu. Secara teknis, saya memang sedikit takut untuk memulai Senin besok. Kenapa? Ada sedikit pertanyaan yang mungkin juga banyak dilontarkan orang yang akan memulai 'hari pertama' mereka di kantor. Apakah saya bisa? Bagaimana saya harus bersikap? Apakah saya cukup qualified? Dan 'apakah-apakah' lainnya yang terdengar sepele namun ternyata penting.
Intinya sih selow aja. Jadi diri sendiri, jaga perilaku, kondisi, hati, dan nggak usah terlalu khawatir. Salah satu teman yang sudah saya anggap kakak sendiri sempat bilang, "Hati-hati kalau memang beneran ada anak magang dari Univ lain. Bisa jadi kalian dibanding-bandingkan. Apalagi konsentrasi jurusan kalian sama..". Tapi semoga saja tidak separah yang dibayangkan. Namanya juga magang, kan latihan kerja. Kalau latihan sudah langsung bisa sempurna ya untuk apa juga. :)

Selain itu bertandang di Jogja beberapa hari sebelum ngantor dan sebelum Ninda ke SG membuat kami punya dialog 'serius' yang cukup. Cukup buat pencerahan dan bahkan cukup buat muntah. Hahaha. Tak disangka obrolan kita melonjak cepat seiring umur ya, Nda. :') Kata-kata 'cuma sebulan' menjadi momok tersendiri bagi saya. Terkesan orang memandang itu sebagai waktu yang amat singkat untuk sekedar latihan kerja. Kalau boleh protes sih, mau saja saya bilang ke birokrat kampus untuk menambah waktu kami disini. Hahaha. Tapi dari sepanjang obrolan disini, yang notabene teman ngobrol saya adalah mahasiswa-hubungan-internasional-paling-lurus dan pencapaiannya sudah sampai ke negara tetangga disaat saya baru sampai sini aja, saya punya niatan kalau kata 'cuma' di depan kata 'sebulan' itu akan tersamarkan. How can, dude?

Ngobrol. Saya tak paham jelas mengapa ngobrol menjadi hal penting ketika ada hal penting lain yang akan kita lakukan. Daripada membaca yang menurut saya masih menjadi hal pertama untuk memperoleh informasi, ngobrol justru menjadi cara termenyenangkan untuk pencarian hal yang sama. Terlebih menarik ketika obrolan kita memancing hal menggelitik lain. Hahaha. Selain itu silaturahmi akan berjalan seiring pencerahan yang didapatkan.

Jelajahi medan. Medan disini bukan hanya dimaksudkan lokasi kantor. Tapi lokasi kota bahkan provinsi. Yap, saya akan explore jalanan Jogja selama sebulan. Itung-itung kan adaptasi. Siapa tau dapet jodoh orang sini. Eh. Maaf salah fokus. Asal nggak jadi cengeng aja kalau tetiba lewat tempat-tempat yang pernah jadi bumbu cerita di masa lalu. Hahaha.

Fokus. Tujuan magang ya magang. Liburan ya liburan. Meski disini saya lebih menganggapnya sebagai mengisi liburan dengan magang. Semoga niat mulia untuk mengorek info sebanyak-banyaknya di kantor untuk menyusun tugas laporan akhir berjalan lancar dan.. kalaupun ada penghalang bumbu-bumbu lain semoga saja tidak keasinan. Hahaha.
Setelah ini dan untuk selanjutnya saya harus membuat report harian kerja untuk kantor dan jurnal pribadi untuk mempermudah penyusunan laporan akhir. Mungkin akan lebih banyak saya share di blog ini sekalian berbagi. Well..

Semangat bertugas, jangan lupa jatuh cinta!

August, 2nd 2015.
Kos Karangwuni B6A, Depok, Jogja, INA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

social influence

Baru baru ini ada project kantor yang dimana aku punya posisi sebagai penanggung jawab. Ngeri. Horor. Lebih horornya lagi aku sempat merasa minder dan grogi karena teman-teman di Puskesmas lain sudah mengeksekusi program ini. Merasa sendirian karena mengira aku doang yang belum berhasil melaksanakan. Tapi ternyata aku nggak sepenuhnya harus merasa minder karena beberapa teman justru nyeletuk, "nggon aku yo rung dioprak-oprak dadi yo sante wae (tempat aku belum disuruh jadi ya santai aja)"
Alhamdulillah, setelah melewati tetek bengek perurusan anggaran yang harus pakai miskom segala, setelah proses perekrutan member yang naik turun bikin mood ilang-ilangan, sampai juga di bulan penentuan program ini harus jalan.
Sebenernya program apaan sih?

Andai aku jadi Ketua BEM

Pertengahan sampai akhir bulan November menjadi euforia yang menarik hati tersendiri bagi keluarga besar mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNSOED karena adanya Pemilihan Raya untuk Ketua BEM KBM KM periode selanjutnya. Kalau boleh berandai untuk mencalonkan diri jadi salah satu kandidat, sebagai mahasiswa dan yang pernah terjun langsung di kepengurusan sebelumnya, aku cenderung tidak mau muluk-muluk untuk hal yang membuat teman-teman mungkin bisa kebingungan sendiri karena—simpelnya—ngga paham sama bahasa-bahasa visi misi calon Ketua BEM yang begitu tingginya. Motivasi untuk mengusung visi misi emang jadi prioritas utama bagi setiap yang mau mencalonkan diri jadi Ketua BEM, tapi aku rasa kalau itu dari mulai bacanya aja bisa mempersulit, lalu apa kabar nanti ke depannya? Semoga aja sih calon yang ada bisa mempermudah penyampaian konkret dari yang ada ya. J