Langsung ke konten utama

Love is just about timing

Lagi jatuh cinta, ya? Ciyee, keliatan banget hebohnya cerita tentang si doi sambil senyum-senyum sendiri. Beneran ada pengharapan nggak tuh? Ehm.


Orang bilang dalam hal ini bisa menjadikan kita menilai lawan jenis secara exiting dalam hal apapun. Tidak hanya fisik dan karakter, tapi juga 'pembawaan'nya. Cinta itu memang buta, tapi tidak tuli. Buktinya dia bisa membedakan mana suara Honda Jazz dan mana suara Honda Vario. *nooffense*

Tapi seiring berjalannya waktu, seperti saya yang dua tahun lagi akan menginjak kepala dua *hiks*, sesuatu ini seperti sudah hilang alasan untuk dibicarakan lagi. Mungkin karena ini memang urusan langit, jadi mana mungkin kita bisa membuat skenarionya sendiri?

Soal kecantikan itu relatif. Kalau ada couple dimana ceweknya cantik tapi cowoknya (maaf) muka pas-pasan, berarti cowoknya pintar. Begitupun sebaliknya. Entah pintar diucap dengan tanda petik ataupun tidak, toh cinta tak butuh alasan untuk mengapa itu bisa terjadi.

Banyak yang mengatakan nasib pula yang membawa kita mengarah pada kurangnya kesungguhan meraih asa ini. Padahal kalau mau disadari, memang segala yang ada hanya Yang Diatas yang menentukan, tapi nasib sendiri bukan berarti tidak bisa kita pacu sendiri juga, kan? Kembali lagi pada kesadaran diri masing-masing untuk mau maju, jalan pelan-pelan, atau malah mundur. Pilihan yang sederhana.

Untuk yang menikmati setiap detik menjadi seperti dikelilingi kupu-kupu terbang menggelikan di dalam perut, jatuh cinta sedang menjadi sahabatmu. Segani sajalah, tak perlu kau buru-buru ingin sama-sama tau bagaimana isi hatinya. Bukankah sebelumnya kau juga pernah merasakan bagaimana perbedaan saat-saat sekarang dengan yang setelah itu? Bukankah nantinya kau pasti akan merindukan kesalah tingkahanmu bahkan saat jarak kita bertapak pun masih sepuluh meter? Saat kode-kode memalukan yang sama-sama kita lemparkan, bukankah itu yang membuat kau merasa manisnya aksara yang seketika bernyawa itu?

Bagaimana dan kemana rasa itu akan dibawa itu tidak penting. Menurutku. Seresahan yang ada juga tidak akan seindah pada saat diawal kau menapakinya, bukan? Berbahagialah sebagai proses persiapan pencitraan setelah ini.

Single bukan berarti tidak laku loh. Single itu merupakan proses persiapan memantaskan diri agar layak untuk sosok yang diidamkan. Aku yakin tidak ada wanita yang tidak menginginkan lelakinya kelak lebih hebat dari dirinya. Karena dibalik wanita hebat akan manis sekali jika ada lelaki yang lebih hebat. Jadi di semesta ini tidak hanya lelaki yang berusaha baik dan gentle untuk menarik hati kami, para wanita. Wanita--yang mungkin di mata kalian hanya punya kodrat untuk menunggu--justru sebenarnya lebih mempersiapkan diri untuk sebagai yang dipantaskan menerima semua yang kalian berikan. Setidaknya pada waktunya nanti, kualitas diri ini tidak hanya bisa dibilang apik oleh pasangan, tetapi semua orang yang melihat kami berjalan beriringan.

Bukan, bukan untuk berpura-pura menjadi orang lain yang lebih baik untuk dirinya. Justru jangan begitu. Tetaplah jadi dirimu yang unik, gali kualitas dirimu menjadi lebih baik, dan carilah faktor pembeda. Jatuh cinta itu biasa saja. Tidak selalu seperti musik yang akan tetap mengalun walau kita berhenti menari. Tidak selalu. Maka pantaskanlah hatimu pula. Jangan pernah berharap menemukan yang tidak akan pernah buatmu terluka. Itu mendekati mustahil. Karena cinta pun akan tumbuh disela-sela sakitmu. Dan jangan memandang sakit hati sebagai keterpurukan. Sakit hati itu indah, bung! Coba kita lihat dari sisi yang berbeda..

Pasti diantara kita banyak yang menanggalkan sesuatu ini ditengah jalan hanya karena dia menyebalkan dan membuat bebal pikiran negatif. Hey, aku pun sempat lupa bahwa, nyaris ngga ada yang ngga bisa berubah di dunia ini. Ngga ada yang ngga mungkin juga, kan? Jadi sangat mungkin juga saat si wanita akan tetap bertahan dalam kondisi apapun padahal lelaki baiknya sudah tak baik lagi. So baby please don't judge negative thing about this, about us.

Andaikata ada alat canggih yang bisa dengan gampangnya mengoperasikan pikiran dan perasaan kita kemudian tanpa perantara semesta untuk memantulkan rahasianya, lalu cinta bisa langsung sampai ke orang yang tepat. Ada yang mau? Aku tidak ingin itu sama sekali. Bagaimana kau merasakan nikmatnya rindu jika itu semua terjadi? Rindu yang terpendam dalam diam itu sejuk. Walau menggelikan jika dikira dia tak tau ternyata paham betul tanpa harus kau utarakan. Rasa lain apa lagi yang membuat dunia pun manis selain rasa strawberry yang melekat kuat di sela-sela rindu kita? Aiih :3

Masih mereka-reka rencana untuk mencuri-curi waktu bersamanya? Jangan ketalang mampus. Hanya yang aku tau waktu terus berjalan. Nikmati saja. Sampai senja di ufuk barat menemukan kita. Senja yang belum pernah ada. Ehem.

- "Ara cerita apaan sih ini?"
- "Ini sampah."
- "Lah. Ngapain di post?"
- "Dibuang. Lah siapa suruh kamu baca" :p

Komentar

  1. Eaaaaaa...
    Intan ya ntan?
    Ehm,

    notenya bagus *nge-wink* *duajempol*
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah sial kau zak ;) hahaha
      makasiiih jempolnyaa :D

      Hapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Ngeluh sama kerjaan?

Saat itu di suatu pagi dimana aku dapet panggilan wawancara di salah satu kantor cabang BUMN di kota perantauan waktu kuliah, banyak hal yang aku yakini itu skenario epic dari Allah terjadi. Jadwal wawancara jam 10 pagi. Karena waktu tempuh yang lumayan, aku berangkat dari rumah jam 7.30. Jelas sesampai di kota tujuan waktu untuk tiba di kantor masih longgar sekali. Setelah menyelesaikan urusan kekurangan pritilan berkas yang harus dibawa, aku mampir ke satu masjid favorit jaman kuliah. Masih jam 9 kurang sekian menit ketika setelah mengambil air wudhu aku masuk ke pintu jamaah putri. Ada sekitar 3 orang perempuan di dalam. Salah satunya ada di dekat tempatku sholat, sedang melantunkan ayat suci. Ketika selesai ritual dhuha, aku mundur menyenderkan bahu ke tembok belakang. Sambil membenarkan posisi kerudung, mbak-mbak yang baru saja selesai ngaji itu menyapaku, "Kerja dimana mba?".

Kapan?

Kapan wisuda?
Banyak yang nanyain, dan akan aku jawab. H-1 wisuda nih!
Bagaimana perasaannya? Tanpa dipungkiri ternyata biasa aja hahaha. Awalnya aku sendiri mengira, semakin mendekati hari H pasti akan semakin tidak sabar untuk pakai toga dan masuk graha. Nyatanya semakin banyak yang diurus, semakin banyak yang difikirkan, Semakin mendekati hari H malah semakin belom pengen lepas dari kampus ;(

Karena Mahasiswa Sehat dari Masyarakat

Mahasiswa bukan hanya kata ‘maha’ di depan kata ‘siswa’. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan rakyat biasa, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Karena kedudukannya, mahasiswa sendiri menjadi memiliki banyak peran dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terlepas dari bidang mereka masing-masing.